Sedangkan Louis Charles Damais, dalam Etudes Javanaises I: Les Tombes Musulmanes Datees de Tralaya, menerangkan jika batu-batu nisan Tralaya menggunakan angka tahun Saka dan angka-angka Jawa Kuno, bukan tahun Hijriyah dan angka-angka Arab. Ini membuktikan bahwa yang dikubur di makam-makam tersebut adalah Muslim Jawa, bukan Muslim non-Jawa.
Dalam Historiografi Jawa juga disebutkan bahwa putri penguasa Surabaya bernama Aria Lembu Sura diperistri oleh Raja Majapahit Brawijaya III. Aria Lembu Sura sendiri tercatat sebagai seorang penguasa beragama Islam.
Jika menilik namanya, “Lembu”, bisa dipastikan bahwa dia merupakan keluarga dari Raja Majapahit. Sedangkan putri Aria Lembu Sura yang lain dikisahkan menikah dengan Aria Teja, penguasa Tuban yang juga beragama Islam.
Selain Aria Lembu Sura, di Surabaya ketika itu juga dikenal sejumlah nama tokoh Muslim, yaitu Ki Ageng Bungkul, penguasa wilayah Bungkul di selatan Surabaya—yang namanya diabadikan menjadi sebuah taman di ujung selatan Jl. Raya Darmo, Surabaya, saat ini.
Ada juga seorang Muslim yang berkedudukan sebagai laksamana laut Majapahit bernama Pangeran Reksa Samodra; serta seorang pejabat yang berkuasa di wilayah perbatasan barat laut Surabaya bernama Ki Bang Kuning.
Sementara itu, dalam berbagai sumber historiografi, Raja Brawijaya V, yang bernama Sri Kertawijaya, dikisahkan menikahi seorang Muslimah asal Champa bernama Darawati—yang datang ke Majapahit membawa pusaka berupa pedati bernama Kyai Jebat Betri dan gong pusaka bernama Mahesa Lawung. Makam Darawati bisa dijumpai di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, tepatnya di area situs Majapahit.

Setelah Brawijaya V menikah dengan Darawati, pada tahun 1440 datanglah seorang wali dari Kerajaan Champa—sekarang Vietnam Selatan—ke Pulau Jawa. Wali itu adalah Syekh Ibrahim Samarqandi atau Maulana Malik Ibrahim.
Dia datang bersama dua putranya, Ali Murtadho dan Ali Rahmat. Fakta sejarah itu ditulis oleh John Vivian Gottlieb Mills dalam bukunya berjudul Ying-yai Sheng-lan: The Overall Survey of the Ocean’s Shores,yang terbit pada tahun 2011.
Syekh Maulana Malik Ibrahim dan kedua putranya tinggal di daerah Tuban, tepatnya di Desa Gesikharjo. Tetapi, sebelum punya cukup waktu untuk mengembangkan Islam, Syekh Ibrahim meninggal dan dimakamkan di Desa Gesikharjo.
Setelah Sang Syekh meninggal, kedua putranya berpindah menuju ke ibu kota Majapahit. Mereka datang ke pusat pemerintahan itu karena di sana ada bibi mereka, Darawati, yang menjadi permaisuri Raja Majapahit.
Setelah itu, atas perintah Raja, mereka berdua diangkat menjadi pejabat Majapahit. Ali Murtadho diangkat menjadi Raja Pandhita atau Menteri Agama bagi umat Islam, sedangkan Ali Rahmat diangkat sebagai Imam bagi umat Islam di Surabaya. Ali Rahmat juga dikenal sebagai Raden Rahmat atau Pangeran Rahmat—yang kemudian menjadi Sunan Ampel.
Sunan Ampel kemudian menikah dan memiliki keturunan; Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan dua orang putri. Dia juga memiliki murid yang kemudian juga berperan aktif menyebarkan Islam di Nusantara, seperti Sunan Giri dan Raden Patah.
Butuh waktu sekitar 30 tahun bagi Sunan Ampel mengembangkan Islam di Jawa—sejak kedatangannya pada tahun 1440—sembari menunggu anak-anak dan murid-muridnya dewasa. Era Wali Songo, yaitu masa ketika anak dan murid Sunan Ampel sudah pada dewasa serta berperan aktif mendakwahkan Islam, dimulai pada tahun 1470.
Musthofa Asrori, dalam tulisannya bertajuk Geliat Islam Periode Wali Songo, menjelaskan, sekitar 40 tahun setelah era Wali Songo dimulai—atau pada tahun 1513—seorang warga Portugis bernama Tome Pires datang ke Jawa. Ketika itu dia mencatat jika semua adipati di sepanjang pantai utara Jawa adalah Muslim.
Fakta yang dicatat oleh Tome Pires ini menarik, sebab—sebagaimana catatan Ma Huan—pada tahun 1433, penduduk pribumi di sepanjang pantai utara Jawa masih belum Islam. Perubahan situasi ini menunjukkan bahwa Islam dikembangkan secara massif dan cepat sejak era Wali Songo, yang secara resmi dimulai pada 1470.
Perkembangan Islam bisa sangat cepat di era Wali Songo, sementara di era sebelumnya selalu mengalami kegagalan, karena—menurut mantan Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU) Said Aqil Siraj—Wali Songo merumuskan strategi dakwah sekaligus strategi kebudayaan secara lebih sistematis.
Strategi tersebut untuk menghadapi pengaruh kebudayaan Jawa dan Nusantara yang pada umumnya yang sudah sangat tua, kuat, dan mapan.

Menurut Kiai Said, strategi Wali Songo dijalankan secara tadrij atau bertahap. Misalnya, ketika para wali menjumpai pribumi yang minum tuak atau makan daging babi, mereka akan meluruskan perilaku tersebut sesuai dengan ajaran Islam, namun secara perlahan-lahan.
Para wali juga memegang teguh prinsip adamul haraj atau tidak menyakiti. Menurut Kiai Said, dengan cara ini, para wali membawa Islam tidak dengan mengusik tradisi pribumi—bahkan tidak mengusik agama dan kepercayaan mereka—melainkan memperkuatnya dengan cara yang Islami.
“Para wali sadar betul bahwa kenusantaraan yang multietnis, multibudaya, dan multibahasa ini adalah anugerah Allah yang tiada tara,” tandas Said.
Ajaran dan strategi dakwah para Wali Songo tersebut, menurut Kiai Said, seharusnya juga diteladani dan dikembangkan oleh para pendakwah zaman now sesuai dengan konteks zaman. Agar fitrah Islam sebagai agama yang menjadi rahmat semesta alam tetap terjaga dengan baik.





