Ancaman Koeksistensi, Ancaman Bagi Civil Society
Konsep civil society mustahil terpisahkan dari prinsip persatuan, kesatuan, dan koeksistensi dalam keragaman. Semangat inilah yang dibawa oleh Rasulullah Saw. dan para sahabat dalam membangun Kota Yatsrib, dan mengubahnya menjadi Kota Tercerahkan atau Madinah Munawwarah.
Persatuan dan koeksistensi harmonis menjadi ciri khas tatanan masyarakat yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw. atas arahan wahyu Ilahi.
Semenjak PBNU di bawah kepemimpinan KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, perbedaan dan perdebatan berevolusi satu oktaf. Tak lagi berpusat pada ideologi keagamaan, namun lebih jauh daripada itu, di mana Gus Yahya melakukan reformasi birokrasi dan organisasi secara besar-besaran. Sebuah dimensi yang betul-betul baru dibandingkan sebelum-sebelumnya.
Adalah prestasi yang luar biasa dalam kepemimpinan Gus Yahya, di mana NU mampu memfokuskan diri pada aspek manajemen organisasi—yang diprediksi bakal mengubah NU menjadi organisasi modern-profesional. Langkah Gus Yahya sepertinya terinspirasi langkah Kiai Wahab Chasbullah, yang memiliki fokus pada aspek keorganisasian NU.
Namun, prestasi besar Gus Yahya dalam memodernisasi keorganisasian NU tampaknya tidak dibarengi warisan kearifan para masyaikh terdahulu, yaitu persatuan, kesatuan, dan koeksistensi. Beberapa kasus terakhir seolah memverifikasi bahwa kepemimpinan Gus Yahya cenderung represif, menolak perbedaan, dan anti-koeksistensi dalam keragaman.
Tindakan represif itu mengatasnamakan pembenahan aspek organisasi. Contoh kecilnya adalah pembekuan struktur dan pemecatan pengurus yang dinilai tidak sevisi.
Mereformasi manajemen keorganisasian memang positif, dan itu merupakan kontribusi kepemimpinan Gus Yahya. Peran NU pun, dalam membangun civil society, akan lebih maksimal apabila NU menjadi organisasi yang modern dan profesional.
Namun, ketidakmampuan Gus Yahya untuk berkoeksistensi dengan perbedaan internal, ditambah tindakan kekuasaan yang represif, merusak NU dan merusak tatanan civil society yang ditandai dengan persatuan, kesatuan, dan koeksistensi dalam keragaman itu.
Wallahu a’lam bishshawab.*
_________
Aguk Irawan adalah pengasuh Ponpes Baitul Kilmah, Yogyakarta; pegiat literasi; dan warga NU biasa.





