Bahaya Ancaman Anti-Kompromi di Tubuh PBNU Masa Kini

Lika-liku NU Membangun Civil Society

Membangun civil society berfondasi persatuan dan kesatuan adalah proses panjang, berliku, dinamis, dan penuh gejolak. Setelah kemerdekaan diraih, dan setiap anak bangsa merdeka secara fisik maupun batin, tantangan membentuk dan mempertahankan civil society pun semakin besar.

Bagi masyaikh NU, menerima eksistensi ideologi maupun partai politik beraliran komunis di era Orde Lama secara sukarela itu tidaklah mudah. Sama tidak mudahnya dengan menerima asas tunggal Pancasila di era Orde Baru. Namun, demi menjaga fondasi persatuan dan kesatuan bangsa yang sudah berhasil membuahkan kemerdekaan, tidak ada pilihan untuk menolak itu semua. (Ishom Hadzik, 2010:16-18).

Warga nahdliyin sudah terbiasa hidup harmonis di tengah keragaman, baik di antara ideologi maupun ormas atau partai yang berbeda. Kebiasaan semacam ini diuji dengan lebih keras ketika memasuki era reformasi, di mana perbedaan menjadi keniscayaan yang harus diterima. Sejak masa reformasi NU tidak saja koeksis dengan kelompok lain yang berbeda, tetapi juga harus mampu koeksis dengan faksi-faksi kecil di internal NU itu sendiri.

Bacaan Lainnya

Koeksistensi menjadi tangga kedua setelah persatuan dan kesatuan. Tanpa kemampuan berkoeksistensi, persatuan akan mudah luntur. Karena itulah, kendati dalam internal NU diwarnai keragaman faksi–beberapa di antaranya NU Liberal yang dikomandoi anak-anak muda; NU Garis Lurus yang digawangi beberapa kiai pesantren; dan NU Moderat yang menjadi faksi arus utama (Abdillah Thoha, 2020)–tidak ada riak-riak sama sekali yang muncul dari keragaman tersebut.

Pos terkait