Pelukis Nasirun berpulang secara mendadak. Sang maestro meninggalkan warisan seni kontemporer yang kental dengan perpaduan mistisme Jawa, nilai tasawuf Islam, dan kedalaman spiritualitas.
Penulis sekaligus sahabat almarhum, Agus Noor, mengonfirmasi kabar berpulangnya maestro lukis Indonesia, Nasirun, pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 05.30 WIB di Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepergian sosok yang lekat dengan karya seni bercorak tasawuf ini mengejutkan publik karena terjadi secara mendadak.
”Mendapat kabar, pelukis Nasirun meninggal dunia sekitar pukul 05.30 pagi tadi. Alfatihah buat almarhum. Saya bersaksi ia orang yang baik,” kata Agus melalui unggahan di media sosial Instagram.
Tetangga sekaligus kerabat Nasirun, Bimo Aditya, membenarkan informasi tersebut. Ia menyebut jenazah sang pelukis saat ini masih disemayamkan di Rumah Sakit (RS) AMC, Yogyakarta.
Menurut Bimo, pelukis kelahiran Cilacap itu tidak memiliki riwayat penyakit serius dan masih beraktivitas normal sebelumnya. “Kemarin sore masih ngobrol sama saya. Belakangan hanya mengeluhkan nyeri di dada dan asam lambung,” ujar Bimo.
Jalan Seni dan Tasawuf
Ihwal perjalanan hidupnya, pria bernama asli Masyhuri ini lahir di Desa Karangwangkah, Cilacap, pada 1 Oktober 1965. Nama Nasirun yang bermakna tertolong disematkan lantaran ia kerap sakit semasa kecil. Ia tumbuh dalam keluarga yang memadukan ajaran Islam dari sang ayah dan nilai Sunda Wiwitan dari ibunya.
Latar belakang tersebut membentuk pandangan spiritual Nasirun dalam berkarya. Ia meyakini seni rupa bukan sekadar wujud estetika, melainkan alat komunikasi untuk menyebarkan nilai ketuhanan. Baginya, melukis adalah jalan paling indah untuk mengenal Tuhan.
Karya Nasirun memancarkan napas zuhud dan praktik penyucian jiwa dari keterikatan duniawi. Ia kerap melukiskan kaligrafi Arab dan tokoh Punakawan seperti Semar sebagai lambang cahaya makrifat. Simbol ini dimaknai sebagai upaya menghapus hijab atau sekat antara manusia dan Sang Pencipta.
Lukisan bertajuk “Pesan Budaya” yang lahir pada 2006 menjadi bukti eksplorasi tasawuf khas Nusantara tersebut. Selain itu, pergaulannya dengan ulama sekaligus pelukis KH Mustofa Bisri atau Gus Mus semakin memperkuat dimensi sufistik Nasirun. Persinggungan inilah yang menjadikan kedalaman spiritual karyanya sangat menonjol dibandingkan perupa kontemporer lainnya.
Dari Sawah ke Kanvas
Sebelumnya, Nasirun melewati masa sulit seusai ayahnya wafat, menjadi satu dari dua anak yang tamat sekolah menengah atas di antara tujuh bersaudara. Ia nekat merantau ke Yogyakarta pada 1983 untuk belajar kriya batik di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI). Ia terpaksa membohongi ibunya dengan mengaku pergi bekerja agar tidak membebani keluarga.
Demi bertahan hidup pada enam bulan pertama, Nasirun bekerja mencangkul sawah dan menanam terong. Ia baru melanjutkan pendidikan ke jurusan Seni Murni Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada 1987. Jalan hidupnya sebagai pelukis utuh terbuka lebar saat ia meraih penghargaan lukisan terbaik kampus pada 1991.
Setelah lulus dari kampus yang kini bernama Institut Seni Indonesia (ISI) itu pada 1994, karier Nasirun melesat. Ia memenangi berbagai penghargaan bergengsi, termasuk McDonald’s Award pada 1994 dan Top Ten Awards Seni Indonesia pada 1997. Karyanya pun dipamerkan hingga ke Singapura dan Belanda.
Di balik ketenarannya, Nasirun tetap membumi bersama sang istri, Illah, serta tiga anaknya yakni Ima Bunga Insan Sani, Yudistira Nurul Azmi, dan Nawarna Ratna Mutu Manikam. Dedikasinya pada regenerasi seni terlihat jelas saat ia membimbing anak muda dalam program Belajar Bersama Maestro bentukan kementerian terkait pada 2015.
Rencananya, jenazah sang maestro akan dikebumikan di Makam Seni Girisapto, Imogiri, Bantul. Pihak keluarga dan kerabat saat ini masih bersiap mengantarkan seniman besar tersebut ke tempat peristirahatan terakhirnya.
”Tidak ada riwayat sakit. Selama ini sehat-sehat saja, jadi benar-benar mendadak,” kata Bimo memungkasi.***





