Gotong Royong Bertahan di Negeri yang Makin Timpang

Di tengah jurang ekonomi yang melebar, gotong royong tidak hilang. Ia berganti wajah—dari sambatan di kampung hingga solidaritas digital—tetapi tetap butuh keadilan untuk bertahan. (Ilustrasi AI Generate)

Nilai tertua Indonesia tengah diuji oleh ekonomi pasar yang tak pernah tidur. Apakah gotong royong masih bisa jadi solusi, atau sekadar slogan yang kita wariskan tanpa isi?

Soekarno pernah menyebut gotong royong bukan sekadar salah satu sila — ia adalah jiwa dari seluruh Pancasila. “Gotong royong adalah Ekasila,” kata Bung Karno, merangkum lima prinsip negara itu dalam satu napas kebersamaan.

Tapi tujuh dekade setelah kemerdekaan, napas itu terasa semakin pendek.

Bacaan Lainnya

Data tabungan masyarakat memperlihatkan jurang yang makin menganga: kelompok dengan simpanan di bawah Rp100 juta rata-ratanya turun dari Rp4,2 juta menjadi hanya Rp1,7 juta. Sementara itu, tabungan kelompok di atas Rp5 miliar justru meroket mendekati Rp30 miliar. Ketimpangan ini bukan angka abstrak — ia adalah cermin dari masyarakat yang semakin sulit saling menolong karena masing-masing sedang berjuang untuk bertahan sendiri.

Warisan yang Lebih Tua dari Republik

Gotong royong bukan temuan para pendiri bangsa. Ia sudah ada jauh sebelum Indonesia ada. Dalam tradisi Jawa dikenal sebagai sambatan — kerja bersama tanpa upah membangun rumah tetangga. Di Minangkabau ada batobo, sistem bercocok tanam bergilir antarkeluarga. Di Bali, ngayah mengikat warga dalam kerja sukarela untuk kepentingan bersama.

Intinya selalu sama: tidak ada yang ditinggalkan ketika yang lain maju.

Bung Hatta melihat nilai inilah yang membuat koperasi cocok untuk Indonesia — kesejahteraan bersama sebagai tujuan utama, bukan keuntungan perorangan. Ia bermimpi tentang ekonomi yang dibangun dari bawah, dari kampung-kampung, dari semangat saling menanggung.

Mimpi itu belum sepenuhnya terwujud.

Ketika Pasar Mengambil Alih

Salah satu ironi pembangunan ekonomi Indonesia adalah lemahnya posisi koperasi dan UMKM, padahal keduanya merupakan manifestasi paling nyata dari semangat ekonomi kerakyatan. Banyak koperasi berjalan sekadar sebagai formalitas administratif tanpa inovasi bisnis yang memadai.

Logika pasar bekerja dengan cara berbeda dari gotong royong. Ia menghargai efisiensi, bukan solidaritas. Ia mengukur nilai dalam rupiah, bukan dalam kepercayaan. Ketika ketimpangan melebar, stabilitas sosial pun ikut terancam. Dan yang paling berbahaya, ketika orang mulai tidak percaya bahwa bekerja sama masih menguntungkan, nilai gotong royong tidak lagi diwariskan — ia dilupakan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan