Gotong Royong Bertahan di Negeri yang Makin Timpang

Di tengah jurang ekonomi yang melebar, gotong royong tidak hilang. Ia berganti wajah—dari sambatan di kampung hingga solidaritas digital—tetapi tetap butuh keadilan untuk bertahan. (Ilustrasi AI Generate)

Dalam realitas Indonesia kini, kearifan lokal yang dimiliki mirip benda pusaka: diwarisi dari leluhur, disimpan dan dipelihara, tetapi tidak mampu diimplementasikan dalam kehidupan nyata sehingga sia-sia merespons tantangan zaman yang telah berubah.

Gotong Royong Berganti Wajah

Namun sesuatu yang menarik sedang terjadi di lapisan bawah masyarakat Indonesia. Gotong royong tidak mati — ia berevolusi.

Fenomena crowdfunding pertama di Indonesia lahir dari dua kasus: Prita Mulyasari yang menghadapi tuntutan hukum besar, dan Bilqis Anindya Passa yang butuh dana pengobatan. Masyarakat bergerak melalui Facebook, mengumpulkan dana untuk mereka. Dari situlah perspektif tentang bentuk baru gotong royong mulai terbuka.

Bacaan Lainnya

Dalam konteks budaya Indonesia, semangat partisipasi kolektif dan saling membantu menyatu secara alami dengan filosofi penggalangan dana bersama. Pertumbuhan crowdfunding di Indonesia didorong oleh infrastruktur digital yang makin baik dan kepercayaan tinggi pada platform lokal.

Platform seperti Kitabisa.com menghubungkan ribuan orang untuk berdonasi pada tujuan sosial. Startup berbasis komunitas seperti Crowde membantu petani mendapatkan modal melalui pendanaan bersama. Bentuknya berbeda, tapi rohnya tetap sama — saling bantu untuk kebaikan bersama.

Tantangan yang Belum Terjawab

Evolusi ini penting, tapi belum cukup. Inflasi kebutuhan pokok, pengangguran terselubung, dan melemahnya sektor UMKM menjadi ancaman nyata. Negara dituntut hadir lebih kuat melalui kebijakan fiskal yang berpihak pada rakyat kecil dan penguatan ekonomi kerakyatan berbasis koperasi.

Pembangunan yang hanya bertumpu pada pendekatan teknokratis cenderung rapuh secara sosial. Ketika krisis datang, absennya kohesi sosial justru mempercepat disintegrasi ekonomi.

Gotong royong digital bisa menjangkau ribuan orang dalam hitungan jam — tapi ia tidak menggantikan kebijakan yang adil. Ia tidak bisa menutup celah ketimpangan yang dibuka oleh sistem yang tidak berpihak pada yang lemah.

Perwujudan keadilan ekonomi bukan hanya bertumpu pada pundak pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa. Semangat gotong royong dan solidaritas sosial harus terus diperkuat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan