Munas-Konbes NU di Ploso Tentukan Lokasi Muktamar, Empat Poros Bermanuver

Ilustrasi Muktamar NU. - ISTIMEWA

Forum Munas-Konbes NU resmi dibuka di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, Sabtu (20/6/2026). Penentuan lokasi Muktamar ke-35 menjadi arena perebutan pengaruh antara poros Lombok, Jakarta, Lirboyo, dan Cirebon Raya.

Forum Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama resmi membuka agendanya di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, Sabtu (20/6/2026). Agenda utama forum ini adalah menetapkan lokasi Muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026.

Namun penentuan lokasi bukan sekadar urusan teknis. Gelanggang Muktamar telah menjelma menjadi arena perebutan pengaruh menjelang suksesi kepemimpinan tertinggi jam’iyyah. Tiga poros utama saling bermanuver dengan kalkulasi masing-masing.

Bacaan Lainnya

Poros Lombok diinisiasi kubu Gus Ipul yang membidik dukungan birokrasi melalui jaringan Kementerian Agama daerah. Manuver ini secara khusus bertujuan menyokong Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam bursa pencalonan.

Poros Jakarta condong memilih Asrama Haji Pondok Gede. Lingkar istana menilai lokasi ini ideal untuk menyiapkan skenario alternatif yang mampu mengimbangi arus utama elite PBNU.

Sementara Poros Lirboyo dimanfaatkan kubu Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Mereka mengandalkan basis struktural dan kultural jaringan alumni untuk mengunci dukungan sekaligus menegaskan supremasi petahana.

Cirebon Raya: Jalan Tengah atau Jebakan?

Merespons kebuntuan tiga poros, wacana menjadikan Cirebon Raya sebagai jalan tengah mulai mengemuka. Ketua PCNU Kabupaten Cirebon KH Aziz Hakim Syaerozi menegaskan kesiapan wilayahnya yang memiliki tradisi keilmuan Islam kuat melalui jaringan pesantren.

“Tradisi keilmuan Islam tumbuh kuat melalui jaringan pesantren yang hingga kini tetap eksis menjaga sanad keilmuan ahlussunnah wal jamaah,” jelas Kiai Aziz.

Namun Pengamat Dinamika NU Muhammad Izzul Haq justru menyoroti kemunculan Cirebon sebagai poros keempat yang sarat muatan politis. “Jangan-jangan ini jebakan. Tiba-tiba Cirebon dijadikan lokasi kompromistis. Cirebon basis KH Said Aqil Siroj. Siapa di belakang Yai Said? PKB yang paling diuntungkan tentunya,” ujarnya kepada Samudrafakta.

Gus Izzul menilai framing Cirebon sebagai titik netral hanyalah ilusi optik politik. “Cirebon adalah kubu ke-4. Cak Imin sebagai maestro politik tentu akan main cantik, gak mau kelihatan sekarang,” tegasnya.

Wakil Ketua Seksi Keamanan Munas-Konbes NU Mochamad Nabiel Haroen memastikan 400 personel gabungan dari Banser, Pagar Nusa, TNI, Polri, dan elemen lainnya siap mengawal jalannya musyawarah di Ploso.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan