Ribuan aksi “No Kings” digelar di seluruh AS pada 28 Maret 2026.
Gelombang protes nasional bertajuk “No Kings” meluas di Amerika Serikat (AS) pada Sabtu, 28 Maret 2026. Aksi ini adalah salah satu mobilisasi anti-Trump terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Menjangkau kota besar hingga komunitas kecil di berbagai negara bagian.
Reuters melaporkan, lebih dari 3.200 aksi digelar di 50 negara bagian. Sementara Associated Press(AP) menyebut lebih dari 3.100 kegiatan terdaftar oleh penyelenggara—menunjukkan skala unjuk rasa yang sangat luas dan terkoordinasi.
Gerakan ini tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat kota seperti New York, Los Angeles, Dallas, dan Washington. Tapi berlangsung juga ke wilayah suburban, kota kecil, dan daerah konservatif. Peristiwa ini merupakan tanda bahwa keresahan terhadap pemerintahan Donald Trump telah menjangkau basis yang lebih luas.
Penyelenggara menyebut aksi ini sebagai gelombang lanjutan dari gerakan “No Kings” yang berkembang sejak Juni 2025. Namun, angka partisipasi nasional masih berupa estimasi penyelenggara.
AP menulis target kehadiran nasional diperkirakan mencapai 9 juta orang, tetapi jumlah finalnya belum diverifikasi secara independen.

Aksi Sabtu itu dipicu oleh akumulasi kemarahan publik terhadap sejumlah isu. Tiga yang paling menonjol ialah perang Iran, penegakan imigrasi yang keras, dan tekanan biaya hidup yang makin berat.
Perang Iran menjadi salah satu pemantik paling kuat. Reuters melaporkan, satu bulan setelah perang dimulai, Trump menghadapi pilihan yang makin sulit di tengah tekanan domestik akibat naiknya harga energi, turunnya dukungan publik, dan belum jelasnya jalan keluar konflik.
Isu imigrasi menambah kemarahan massa. Reuters dan AP mencatat banyak peserta aksi menyoroti kebijakan deportasi, tindakan aparat federal, serta kekhawatiran atas arah pemerintahan yang mereka nilai makin keras dan sentralistis.
Keluhan ekonomi ikut menjadi benang merah dalam aksi protes ini. Peserta aksi di banyak kota mengaitkan perang, inflasi, dan harga energi dengan makin beratnya beban rumah tangga Amerika.
Wall Street Journal juga mencatat perang Iran menjadi salah satu isu yang paling banyak disebut para peserta demonstrasi.
Minnesota Jadi Titik Sorotan
Pusat perhatian tertuju ke St. Paul, Minnesota. Di sana, aksi utama digelar di halaman Capitol negara bagian dan menjadi panggung simbolik perlawanan terhadap Trump.
AP melaporkan, acara puncak itu menghadirkan Bruce Springsteen sebagai penampil utama. Hadir pula Bernie Sanders, Joan Baez, dan Jane Fonda, yang mempertebal bobot politik sekaligus kultural dari gerakan “No Kings”.
Reuters menyebut Minnesota menjadi lokasi yang sangat emosional karena aksi di sana juga diwarnai penghormatan kepada dua korban penembakan oleh aparat federal. Hal ini membuat demonstrasi tidak hanya bernuansa politik, tetapi juga sarat emosi publik.
Perkiraan massa di Minnesota juga sangat besar. AP menulis penyelenggara memperkirakan sekitar 100.000 orang akan hadir dalam acara utama tersebut. Namun, angka itu merupakan estimasi penyelenggara sebelum acara, bukan penghitungan resmi final.

Perang Iran Jadi Beban Politik Trump
Perang Iran kini bukan sekadar isu luar negeri. Konflik itu mulai berubah menjadi beban politik domestik bagi Gedung Putih, terutama karena menyentuh harga energi, pengerahan pasukan, dan kekhawatiran akan perang yang lebih panjang.
Reuters melaporkan Trump sedang menghadapi tekanan berlapis. Di satu sisi ia ingin menunjukkan ketegasan militer. Di sisi lain, perang yang berkepanjangan justru berpotensi mengingatkan publik Amerika pada trauma Irak dan Afghanistan.
Situasi ini makin sensitif setelah muncul laporan bahwa Pentagon menyiapkan kemungkinan operasi darat selama beberapa pekan di Iran, meski belum ada keputusan final dari Trump. Isu inilah yang ikut memperkuat narasi anti-perang dalam protes “No Kings”.
Gedung Putih Meremehkan
Respons Gedung Putih cenderung meremehkan gelombang aksi tersebut. Sejumlah laporan menyebut protes itu dipandang sebagai ekspresi kelompok anti-Trump yang tidak mewakili arus utama masyarakat.
AP melaporkan pejabat Gedung Putih dan sekutu Trump menolak menganggap demonstrasi itu sebagai ancaman politik serius. Mereka menggambarkannya sebagai aksi kiri yang penuh teatrikal, sementara Partai Republik menilai demonstran tidak mencerminkan mayoritas pemilih Amerika.
Meski begitu, luasnya jangkauan aksi menunjukkan bahwa oposisi terhadap Trump kini semakin mudah terkonsolidasi. Reuters menekankan meluasnya partisipasi di komunitas kecil dan daerah suburban sebagai sinyal politik yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Efek Politik ke Pemilu Paruh Waktu
Gelombang “No Kings” muncul pada saat yang sensitif, yakni beberapa bulan menjelang pemilu paruh waktu AS pada November 2026. Karena itu, aksi ini berpotensi menjadi indikator awal kekuatan mobilisasi anti-Trump di lapangan.
Besarnya aksi ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap Trump tidak lagi bertumpu pada satu isu tunggal. Perang Iran, imigrasi, hak sipil, dan tekanan ekonomi kini bertemu dalam satu payung protes yang sama.
Bagi Partai Republik, situasi ini bisa menjadi alarm dini. Bagi oposisi, “No Kings” memberi sinyal bahwa energi perlawanan terhadap Trump tetap hidup dan bahkan meluas hingga ke wilayah yang selama ini tidak dianggap sebagai pusat demonstrasi.***





