Strategi Catur Iran: Perang Asimetris, Filsafat Kant, dan Runtuhnya Hegemoni Barat

Ilustrasi strategi catur Iran menghadapi AS dan zionis. - AI Generate
Iran bermain catur di Timur Tengah. Lewat perang asimetris, mereka merebut opini dunia dan membuat hegemoni musuh kelelahan.

Oleh: Faried Wijdan | Penulis Samudrafakta

​Vladimir Putin pernah melontarkan pengamatan tajam: Iran tidak sedang berperang secara emosional, mereka sedang bermain catur. Setiap langkah mereka ukur dengan presisi, menunggu waktu yang paling tepat.

Ketika musuh menyerang berulang kali, Iran sering kali hanya membalas seperlunya. Namun, belakangan ini, pola tersebut berubah drastis. Iran mulai membalas dan bahkan mengancam balik meski penguasa negeri Arab berpihak pada Amerika Serikat dan zionis.

​Keberanian ini bukan sekadar pamer rudal balistik. Iran sudah memiliki teknologi militer tersebut sejak lama. Kunci utama dari pergerakan mereka saat ini adalah penguasaan momentum.

Bacaan Lainnya
​Momentum Emas di Tengah Krisis Gaza

Serangan membabi buta zionis ke Gaza telah merombak total lanskap opini dunia. Masyarakat Barat yang dahulu memberikan dukungan penuh, kini mulai bergeser arah. Kebrutalan yang terjadi di era media sosial membuat semuanya telanjang di depan mata dunia. Sikap acuh tak acuh mayoritas rezim Arab pun tak lagi menjadi rahasia bagi umat Islam global.

​Sementara itu, Amerika Serikat di bawah kendali para pemimpinnya kerap bertindak arogan layaknya preman yang memaksakan kehendak—mulai dari menekan negara lain hingga bermanuver menguasai Gaza.

Dunia melihat ketidakadilan ini dengan geram. Situasi ini mirip dengan video viral di mana seorang arogan yang merundung orang lain akhirnya tersungkur, lalu penonton bersorak kegirangan.

Tepat saat dunia sedang muak dengan hegemoni tersebut, Iran maju memberikan pukulan balasan. Hasilnya mudah ditebak: mayoritas warga dunia bersorak dan melihat langkah berani ini sebagai simbol perlawanan.

​Filsafat Kant dan Doktrin Perang Asimetris

Namun, perlawanan Iran tidak hanya bermodal nekad. Mereka memiliki strategi jangka panjang yang mengakar pada pemikiran filosofis yang kuat. Tokoh politik Iran, Ali Larijani, menggunakan filsafat Immanuel Kant untuk merumuskan strategi keamanan nasional dan doktrin perang asimetris negaranya.

Pos terkait