Kisah ini tergambar jelas pada tahun 2015 silam di sela-sela sidang PBB. Larijani bertemu dengan politisi veteran AS, Henry Kissinger. Saat Kissinger bertanya kapan Iran akan meninggalkan ideologi revolusionernya dan menjadi pragmatis karena “kelelahan”, Larijani dengan tenang membalikkan pertanyaan: “Kapan Amerika Serikat yang kelelahan?”
Larijani mengambil landasan dari gagasan Kant tentang “perpetual peace” (perdamaian abadi). Kant berpendapat bahwa konflik jarang berakhir murni karena kemenangan moral. Perang berhenti akibat kelelahan yang ekstrem.
Sebuah negara akan berhenti bertempur ketika biaya operasional dan kerugian yang mereka tanggung tidak lagi sebanding dengan hasil yang mereka capai.
Adu Ketahanan dan Runtuhnya Opini
Doktrin inilah yang menjadi fondasi perang asimetris Iran. Mereka tidak berniat untuk sekadar menuruti aturan main Amerika. Target utama Iran adalah membuat Amerika dan sekutunya mundur sendiri karena kelelahan.
Cara yang Iran tempuh sangat taktis: bertahan lebih lama dan menekan terus-menerus. Mereka merancang agar konflik ini menjadi sangat mahal, panjang, dan menguras sumber daya musuh. Ratusan rudal yang Iran luncurkan baru-baru ini bukanlah keputusan impulsif.
Mereka telah menyimpannya selama puluhan tahun demi menunggu musuh melakukan blunder dan kehilangan dukungan moral.
Kita mungkin tidak tahu siapa yang akan memenangkan pertarungan militer ini secara absolut di masa depan. Namun untuk saat ini, Iran telah menang telak dalam memperebutkan opini mayoritas warga dunia.
Mereka membuktikan bahwa perang modern bukan hanya soal siapa yang punya senjata terbanyak, tetapi siapa yang punya ketahanan paling panjang. Kesombongan dan kebiasaan menang telah membuat Amerika ceroboh, dan di sanalah Iran berhasil membungkam hegemoni mereka secara elegan.***





