Membedah Sisi Gelap Algoritma: Tantangan Baru Kesehatan Mental Pelajar Hari Ini

Remaja hidup di dua ruang: nyata dan digital. Notifikasi tak pernah tidur, tetapi rasa sepi tetap ada. Tekanan sunyi inilah yang kerap luput dari perhatian. — Ilustrasi/AI Generate
Fenomena bunuh diri yang melibatkan remaja dan pelajar kembali mengguncang kesadaran publik. Dalam waktu berdekatan, sejumlah kasus terjadi di berbagai daerah dan menyoroti tekanan psikososial generasi muda di era digital.

Tiga peristiwa bunuh diri yang melibatkan remaja dan pelajar terjadi dalam waktu berdekatan di beberapa wilayah Indonesia. Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat beberapa mahasiswa mengakhiri hidupnya; Demak dikejutkan aksi nekat siswa SD gantung diri; sementara Bandung berduka atas tewasnya seorang siswa yang diduga akibat putus hubungan dengan pacarnya.

Kasus-kasus itu menjadi tamparan keras bagi kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental generasi muda, terutama di era kehidupan nyata dan digital yang berbaur tanpa sekat.

Tekanan Psikososial di Dua Ruang Kehidupan

Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur sekaligus Dosen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si., memandang bahwa peristiwa tersebut merupakan cerminan dari tekanan psikososial yang makin kompleks.

Bacaan Lainnya

“Anak-anak hari ini hidup dalam dua ruang sekaligus, yakni ruang fisik dan ruang digital. Tekanan di ruang digital bisa berlangsung tanpa jeda, 24 jam, dan sering tidak disadari orang tua maupun guru,” jelasnya, Kamis (26/2/2026).

Tiga Pelajar Bunuh Diri
Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur sekaligus Dosen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Dr Suko Widodo Drs MSi. – Humas Unair
Perspektif Komunikasi: Paparan Media dan Standar Kebahagiaan

Dari sudut pandang komunikasi, Suko menerangkan bahwa Teori Kultivasi oleh George Gerbner mampu menganalisis fenomena ini. Paparan media sosial secara berulang membentuk persepsi remaja tentang bagaimana realitas sosial seharusnya. Pada akhirnya, konten-konten yang menampilkan kebahagiaan dan popularitas dinilai sebagai standar umum kehidupan.

Menurutnya, ketika pesan dari media bercampur dengan pengalaman pribadi yang rapuh, hal itu dapat menyebabkan resonansi emosi dan memperkuat perasaan negatif.

“Media sosial bukan hanya ruang informasi, tetapi ruang amplifikasi emosi. Remaja yang sedang mengalami putus hubungan atau tekanan akademik akan lebih rentan terhadap pesan yang sesuai dengan kondisi emosionalnya,” terangnya.

Algoritma dan Pentingnya Literasi Digital Emosional

Lebih lanjut, algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang selaras dengan preferensi dan aktivitas pengguna. Maka, Suko menekankan pentingnya literasi digital yang tidak hanya berhenti pada aspek teknis, tetapi juga menyentuh kesadaran emosional.

Perlu keterlibatan seluruh pihak, mulai dari sekolah dan keluarga, untuk memiliki mekanisme deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa. Selain itu, Suko juga berpesan agar media massa bertanggung jawab dalam pemberitaan kasus bunuh diri dengan menghindari sensasionalisme dan selalu menyertakan informasi tentang layanan konseling.

“Remaja bisa terhubung dengan ratusan orang secara daring setiap hari, tetapi tetap merasa sendirian secara emosional. Kita harus memastikan mereka tidak hanya terhubung, tetapi juga didengar,” tutup Suko.

Catatan Penting: Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan psikologis berat, segera hubungi layanan konseling profesional, psikolog, atau fasilitas kesehatan terdekat. Dukungan dan pertolongan selalu tersedia.***

Pos terkait