SFV Picu Gangguan Fokus hingga Masalah Emosi pada Remaja

Ilustrasi scroll SFV. - Canva
Psikolog ungkap konsumsi video pendek berlebihan bikin remaja makin sulit fokus dan mudah emosi.

Eksplosi konsumsi short form video (SFV) di YouTube Shorts, TikTok, dan Instagram Reels kini menjadi perhatian serius psikolog dan peneliti. Lonjakan penggunaan format video singkat ini terbukti memicu gangguan konsentrasi, emosi, tidur, hingga penurunan fungsi kognitif pada anak dan remaja.

Konsumsi Berlebih Rusak Fokus

Psikolog dan Ketua Bidang Humas Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Samanta Elsener, menegaskan pola konsumsi video pendek membuat perhatian remaja semakin mudah terpecah.

“Banyaknya video pendek itu ada hubungannya dengan kesehatan mental. Video seperti ini bisa bikin fokus alias attention span mereka jadi pendek, dan mereka juga gampang marah-marah,” ujarnya dalam acara “Beranda Jiwa” di kantor Google Indonesia, Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Bacaan Lainnya

Samanta menjelaskan, otak dan hormon pada anak-anak serta remaja berusia 5–17 tahun masih berkembang pesat. Pada fase ini, impulsivitas dan sensitivitas emosional tinggi sehingga mereka lebih rentan terdampak paparan konten digital yang cepat dan intens. “Di periode awal perkembangan, hormon dan otaknya pesat, sehingga mereka sangat rentan,” kata Samanta.

Ia bahkan mendukung jika pemerintah mempertimbangkan pembatasan usia penggunaan media sosial, seperti praktik di Australia, untuk mengurangi paparan konten negatif.

Dampak Luas: Emosi, Sosial, hingga Depresi

Penguatan temuan ini muncul dalam analisis big data terhadap 98.299 partisipan dari 71 studi lintas platform. Konsumsi SFV yang tinggi dikaitkan dengan penurunan kemampuan sosial pada remaja dan dewasa, serta peningkatan risiko depresi, stres, kecemasan, dan rasa kesepian.

“Siklus menerima konten baru yang terus merangsang emosi dapat memicu pelepasan dopamin dan membentuk lingkaran kebiasaan yang membuat pengguna makin bergantung secara emosional,” tulis tim peneliti, dikutip dari Unilad.

Para peneliti menyebut kesulitan pengguna mengatur emosi di dunia nyata membuat risiko stres meningkat seiring intensitas konsumsi SFV.

Gangguan Tidur dan Penurunan Kognitif

Paparan SFV beberapa jam sebelum tidur juga berhubungan dengan kualitas tidur yang buruk. Cahaya biru dari gawai menekan produksi melatonin dan serotonin, hormon penting pengatur ritme sirkadian.

Peneliti masih mengkaji berbagai dampak lain, termasuk pengaruh SFV terhadap citra tubuh. Namun pola umum menunjukkan semakin sering pengguna melakukan scrolling, semakin besar risiko penurunan fungsi kognitif dan kesehatan mental.

Kontrol Diri dan Peran Orang Tua

Samanta menegaskan pentingnya peran orang tua sebagai garda pertama pencegahan. Ia menyarankan penguatan kontrol diri (self-control) pada anak dan remaja.

“Dengan self-control, anak-anak bisa diajari supaya bisa membatasi menikmati konten di internet. Kalau harus dibatasi terus dengan fitur dan durasi, ini namanya mereka belum punya self-control,” kata Samanta.

Ia menyebut batas konsumsi ideal adalah maksimal dua jam per hari. Selain itu, orang tua perlu memiliki literasi digital, termasuk memahami cara kerja algoritma media sosial agar dapat mendampingi anak dengan lebih efektif.***

Pos terkait