Asal-Usul Algoritma Ternyata dari Baghdad, Bukan Silicon Valley

Ilustrasi.
Jauh sebelum Bill Gates dan Turing lahir, logika algoritmik sudah ditulis seorang ilmuwan Muslim di Baghdad.

Sekitar tahun 820 Masehi, di masa Kekhalifahan Abbasiyah, ilmuwan Persia bernama Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi menulis dua kitab penting di Bayt al-Hikmah, Baghdad. Salah satunya Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala yang menjadi dasar lahirnya aljabar, dan Kitab al-Jam’ wal-Tafriq bi-Hisab al-Hind yang kelak melahirkan istilah “algoritma”.

Dalam al-Jabr, Al-Khwarizmi memperkenalkan cara berpikir seimbang dan harmonis—mengembalikan yang hilang agar utuh, serta menyamakan dua sisi agar adil. Pandangan ini mencerminkan filsafat Timur: bahwa kebenaran lahir dari keseimbangan, bukan sekadar perhitungan logis.

Seratus tahun setelah wafatnya, karya Al-Khwarizmi diterjemahkan ke bahasa Latin di Toledo dan Cordoba. Dari nama “Algoritmi” dalam naskah terjemahan itulah muncul kata algorithm. Eropa kemudian mengadopsi sistem angka India-Arab dan cara berpikir prosedural, tapi melupakan akar spiritual dan etisnya.

Bacaan Lainnya

Kini, saat dunia dikuasai logika mesin dan kecerdasan buatan, penting diingat: dasar algoritma modern bukan dari Barat, melainkan dari Baghdad. Al-Khwarizmi-lah bapak logika komputasi yang sesungguhnya.

Selengkapnya baca di sini.

Pos terkait