Utang dunia kembali memecahkan rekor, menembus USD337,7 triliun atau sekitar Rp5.818 kuadriliun, dengan Amerika Serikat dan China menjadi motor utama lonjakan tersebut.
Angka itu terungkap dalam laporan terbaru Institute of International Finance (IIF), yang memotret akumulasi beban pembiayaan global di tengah tekanan fiskal yang belum sepenuhnya mereda. Dalam beberapa tahun terakhir, utang meningkat tajam, mencerminkan kebutuhan pembiayaan pemerintah dan sektor swasta yang terus membesar.
Secara nominal, kenaikan terbesar berasal dari dua ekonomi raksasa: Amerika Serikat dan China. Keduanya memperluas pembiayaan melalui penerbitan surat utang pemerintah serta ekspansi pinjaman sektor swasta.
Skala ekonomi yang besar membuat setiap kenaikan kecil sekalipun berdampak signifikan terhadap total utang dunia.
Lonjakan Cepat dalam Waktu Singkat
IIF mencatat, hanya dalam paruh pertama periode pemantauan, utang global bertambah lebih dari USD 21 triliun. Kenaikan ini tergolong agresif, terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Sejumlah faktor mendorong akselerasi tersebut. Pelonggaran kondisi keuangan global memberi ruang bagi penerbitan utang baru. Kebijakan moneter yang relatif akomodatif di berbagai negara juga menjaga biaya pinjaman tetap terkendali. Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan pemerintah—mulai dari belanja sosial hingga stimulus ekonomi—masih tinggi.
Pelemahan dolar AS turut memberi efek statistik: nilai utang dalam denominasi dolar tampak membesar ketika mata uang tersebut melemah terhadap mata uang lain. Namun di balik pergerakan kurs, substansinya tetap sama—beban pembiayaan global semakin berat.
Pasar Berkembang Kian Tertekan
Lonjakan tidak hanya terjadi di negara maju. IIF mencatat total utang negara berkembang telah menembus lebih dari USD 109 triliun setelah naik sekitar USD 3,4 triliun pada kuartal kedua.
Kondisi ini menambah daftar kekhawatiran. Banyak negara berkembang menghadapi jatuh tempo obligasi dan pinjaman dalam jumlah besar dalam waktu dekat. Refinancing—mencari pembiayaan baru untuk membayar utang lama—menjadi tantangan tersendiri, terutama jika kondisi pasar memburuk atau suku bunga kembali naik.





