Rebut Narasi Pesantren: Hentikan Propaganda Lama yang Berwajah Baru

Dari balik bayangan kolonial, propaganda lama masih berbisik. Saatnya pesantren bicara dengan suaranya sendiri. - Ilustrasi dibuat dengan SORA
Narasi buruk tentang pesantren bukan hal baru — ini warisan kolonial yang kini hidup di layar media.

Selama berabad-abad, pesantren menjadi benteng moral dan pendidikan bangsa. Namun kini, lembaga tua itu kembali dihantam stigma lewat pemberitaan yang tidak proporsional. Satu kasus individual langsung digeneralisasi menjadi citra buruk bagi seluruh pesantren, seolah sistem pendidikan Islam ini sarang masalah.

Pola ini bukan hal baru. Ia berakar pada strategi kolonial Snouck Hurgronje awal abad ke-20, yang menasihati Belanda untuk membiarkan umat Islam beribadah tapi menekan lembaga sosial-politiknya—terutama pesantren. Sejak itu, serangan terhadap pesantren bergeser dari fisik menjadi simbolik: lewat narasi negatif dan kecurigaan sistematis.

Di era digital, propaganda lama itu lahir kembali lewat algoritma media. Judul sensasional seperti “Tragedi di Balik Dinding Pesantren” menjadi makanan empuk untuk klik dan viralitas.

Bacaan Lainnya

Padahal data Kemenag 2023 mencatat lebih dari 36 ribu pesantren dengan 5 juta santri di Indonesia—angka yang menunjukkan vitalitas, bukan keburukan. Namun framing media tetap menciptakan standar ganda: kasus di sekolah umum dianggap insiden, tapi di pesantren dijadikan stigma.

Kini, pesantren perlu merebut kembali narasinya. Dengan melatih santri melek media, membangun unit komunikasi, dan menggandeng jurnalis independen, pesantren bisa melawan stigma dengan kisah nyata dari dalam. Sebab seperti kata Azyumardi Azra, pesantren adalah lembaga paling resilien di negeri ini. Dan selama ia tak diam, propaganda lama takkan pernah benar-benar menang.

Selengkapnya di sini. 

Pos terkait