Peringatan Hari Hipertensi Dunia: Remaja Kini Rentan Terserang Darah Tinggi, Perhatikan 5 Hal Ini Agar Terhindar

Hipertensi masa kini juga menyerang usia remaja. Perlu makin waspada. | Ilustrasi
Setiap tahunnya pada tanggal 17 Mei, dunia memperingati Hari Hipertensi Sedunia. Momentum meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga tekanan darah dalam batas normal. Apalagi, di masa kini, banyak remaja yang sudah terserang penyakit yang dulunya identik dengan orang dewasa atau lanjut usia ini.

__________

Selama ini hipertensi juga dianggap sebagai silent killer. Hal itu karena hipertensi tidak hanya diam-diam berkembang dalam tubuh tanpa gejala, tetapi juga bisa menyebabkan komplikasi serius seperti stroke, gagal jantung, hingga kematian mendadak jika tidak ditangani dengan baik.

Selain itu, ada pula informasi yang perlu jadi perhatian bersama: bahwa hipertensi bukan lagi masalah eksklusif orang dewasa atau lanjut usia. Remaja pun kini mulai rentan terhadap penyakit ini.

Bacaan Lainnya

Banyak remaja mengalami hipertensi akibat berbagai faktor, antara lain gegara gaya hidup dan kondisi kesehatan. Fenomena ini menjadi perhatian serius, karena tekanan darah tinggi pada usia muda dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke di masa depan.

Untuk menghindari agar tak terjangkit hipertensi di usia dini, ada lima hal yang perlu diperhatikan secara serius.

1. Gaya Hidup Instan Jadi Ancaman Nyata

Remaja saat ini tumbuh di dalam lingkungan yang serba cepat serta praktis. Makanan cepat saji, minuman manis dalam kemasan, kebiasaan duduk terlalu lama menatap layar, hingga kurang tidur telah menjadi bagian dari keseharian. Meski terlihat sepele, kebiasaan ini menjadi bom waktu bagi kesehatan.

Mengutip dari laman resmi Universitas Airlangga (Unair), hipertensi pada remaja di Indonesia mulai menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 18 tahun ke atas mencapai 34,1 persen. Angka ini menjadi sinyal bahwa tekanan darah tinggi sudah menyusup ke usia produktif dan muda.

Sejumlah faktor penyebab terjadinya hal ini, berdasarkan satu penelitian kesehatan masyarakat, menunjukkan bahwa gaya hidup menjadi penyebab yang paling mempengaruhi.

Contohnya, terkait kebiasaan mengonsumsi makanan serba instan dan tidak diimbangi dengan gizi yang dibutuhkan. Padahal, konsumsi makanan tinggi garam, lemak jenuh, dan gula (GGL) tanpa diimbangi aktivitas fisik dapat menyebabkan tekanan darah meningkat.

2. Stres Diam-Diam Picu Tekanan Darah Tinggi

Remaja, sebagai kelompok usia transisi dari anak-anak menuju dewasa, kerap menghadapi tekanan dari berbagai aspek—mulai dari tuntutan akademik, masalah keluarga, hingga tekanan sosial dari media digital.

Jika tidak dikelola dengan baik, stres kronis ini bisa berdampak langsung pada kesehatan fisik. Salah satunya adalah peningkatan tekanan darah akibat lonjakan hormon stres.

Sebab stres kronis ternyata juga bisa memicu peningkatan tekanan darah hingga memengaruhi kesehatan dari jantung. Maka, remaja juga harus mulai diajarkan cara mengenali dan mengelola stres sejak dini.

3. Konsumsi Gula-Lemak Masyarakat Masih Tinggi

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI terus berupaya menekan angka penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, jantung, diabetes, dan kanker, yang jumlahnya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, beberapa waktu lalu menyatakan bahwa perilaku konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang tidak terkendali menjadi penyebab utama meningkatnya PTM di Indonesia.

“Kalau kita lihat dari peta penyakit dari tahun 2019 sampai sekarang, penyakit tidak menular (PTM) baik hipertensi, diabetes, jantung, sampai kanker, trennya terus meningkat. (Salah satu penyebabnya) karena pola makan tadi,” kata Nadia.

Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 pun menunjukkan bahwa 47 persen masyarakat mengonsumsi gula melebihi batas harian, 45 persen mengonsumsi garam secara berlebihan, dan 30 persen memiliki asupan lemak yang tinggi. Jika kebiasaan ini tidak segera diubah, maka kesehatan masyarakat, termasuk remaja juga akan terancam.

Pos terkait