IPB Luruskan Mitos Daging Kambing Picu Hipertensi

Ilustrasi daging kambing. Pixabay
Daging kambing tidak otomatis memicu hipertensi. Risiko justru lebih banyak datang dari porsi, garam, lemak, dan cara memasaknya.

Mitos daging kambing sebagai biang kerok tekanan darah tinggi kembali mencuat menjelang musim kurban. Guru Besar Genetika dan Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menegaskan daging kambing secara ilmiah tidak otomatis menjadi pemicu hipertensi.

Menurut Ronny, sebagaimana daging merah lain, risiko tekanan darah tinggi lebih banyak dipengaruhi cara penyajian dan pola konsumsi. Daging yang dimasak dengan garam, mentega, minyak, atau saus berlemak berlebihan dapat berubah menjadi makanan berisiko bagi kesehatan jantung.

“Sebagaimana halnya dengan daging merah lainnya, daging kambing secara ilmiah tidak menjadi pemicu hipertensi. Namun, hal itu bisa disebabkan karena cara penyajian dan konsumsi yang terkait erat dengan hipertensi,” kata Ronny, dikutip dari IPB University.

Bacaan Lainnya
Cara Masak Jadi Penentu

Ronny menjelaskan, kualitas gizi daging dipengaruhi jenis ternak, faktor genetik, dan pola pemeliharaan. Ternak yang digembalakan umumnya menghasilkan daging dengan kandungan lemak jenuh dan kolesterol lebih rendah dibandingkan ternak dari sistem penggemukan.

Daging kambing atau chevon disebut memiliki lemak lebih rendah, kepadatan protein lebih tinggi, serta profil kolesterol yang baik dibandingkan sebagian daging merah lain. Daging ini juga mengandung zat besi dan protein yang dibutuhkan tubuh.

Namun, Ronny mengingatkan konsumsi tetap harus moderat. Orang dengan hipertensi atau gangguan kardiovaskular perlu memantau asupan daging merah, termasuk daging kambing, agar tidak berlebihan.

Tetap Batasi Garam dan Lemak

Kementerian Kesehatan RI menganjurkan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak harian. Batas garam yang disarankan ialah 2.000 miligram natrium atau setara 5 gram garam per orang per hari, sedangkan lemak dibatasi 67 gram per hari.

American Heart Association juga mengingatkan makanan tinggi natrium dapat meningkatkan tekanan darah. Lemak jenuh juga dapat menaikkan kolesterol jahat yang berkaitan dengan risiko penyakit jantung dan stroke.

Pos terkait