Riset terbaru MIT Media Lab dan OpenAI menyebutkan bahwa pengguna yang sering berinteraksi (chat) dengan ChatGPT terindikasi mengalami tingkat kesepian dan ketergantungan emosional yang lebih tinggi.
__________
Riset kolaboratif ini melihat sejauh mana interaksi dengan ChatGPT memengaruhi kesehatan emosional pengguna, dengan fokus pada penggunaan mode suara canggih chatbot tersebut.
Penelitian dilakukan melalui dua metode. Pertama, dengan uji coba terkontrol secara acak alias randomized controlled trial (RCT) dari MIT, terhadap 1.000 peserta selama empat minggu.
Metode kedua dilakukan dengan analisis kepada hampir 40 juta interaksi yang berlangsung di ChatGPT.
“Semakin tinggi frekuensi interaksi dengan ChatGPT, semakin besar pula rasa kesepian dan ketergantungan yang dialami pengguna,” ujar tim peneliti, seperti dirangkum dari Fortune, Selasa 8 April 2025.
Riset ini juga menyoroti perlunya pengembangan AI yang lebih bertanggung jawab agar tetap memberikan manfaat tanpa menggantikan hubungan sosial dengan manusia.
Pada akhirnya, meski AI bisa menjadi alat yang membantu, manusia sebagai pengguna masih tetap membutuhkan hubungan sosial yang “nyata”, untuk menjaga keseimbangan emosional dan kesehatan mental mereka.
Sisi Lain Membahayakan dari ChatGPT
Di balik kecanggihan ChatGPT, terkandung sisi lain yang justru menunjukkan tren mengkhawatirkan.
Hasil riset menunjukkan pengguna yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap ChatGPT lebih rentan mengalami ketergantungan emosional. Kepercayaan ini membuat mereka makin sering mengandalkan chatbot sebagai tempat curhat utama, sehingga interaksi sosial dengan manusia di dunia nyata semakin berkurang.
Menurut peneliti, penggunaan ChatGPT yang berulang kali untuk percakapan bersifat personal juga meningkatkan risiko pengguna merasa lebih terisolasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa, meski teknologi bisa memberikan kenyamanan emosional, ia tidak dapat menggantikan hubungan sosial yang sesungguhnya.
Tidak hanya itu, studi juga menemukan bahwa pengguna dengan interaksi paling intens seringkali menganggap chatbot sebagai “teman”. Beberapa bahkan percaya bahwa ChatGPT memiliki emosi seperti manusia dan bisa memahami perasaan mereka.
Pada awalnya, chatbot berbasis suara tampak lebih efektif dalam mengurangi rasa kesepian dibandingkan yang berbasis teks. Namun, efek ini berangsur-angsur memudar seiring peningkatan intensitas penggunaan.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun chatbot berbasis suara awalnya tampak bermanfaat dalam mengurangi kesepian dan ketergantungan dibandingkan dengan chatbot berbasis teks, keuntungan ini berkurang pada tingkat penggunaan yang tinggi, terutama dengan chatbot yang memiliki suara netral,” ungkap peneliti.
Fenomena ini juga tercermin dalam survei YouGov tahun 2024 yang menemukan bahwa lebih dari separuh anak muda Amerika berusia 18 hingga 29 tahun merasa nyaman berbicara dengan AI mengenai masalah kesehatan mental.
Beberapa bahkan menganggap AI sebagai alternatif terapi yang lebih mudah diakses dibandingkan bantuan profesional.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa AI tidak bisa menggantikan interaksi sosial manusia sepenuhnya. Ketergantungan berlebihan pada chatbot dapat membuat pengguna semakin terisolasi, mengurangi dorongan mereka untuk membangun hubungan sosial yang nyata. Dalam beberapa kasus, ketergantungan ini bahkan menimbulkan dampak negatif yang lebih luas.
Sebagai informasi, sebagai tools kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), ChatGPT menawarkan berbagai kemampuan. Chatbot ini dapat membantu pengguna dalam berbagai keperluan, mulai dari menjawab pertanyaan umum, menyusun teks, hingga memberikan saran dalam berbagai bidang. Selain fungsi tersebut, ChatGPT juga sering dimanfaatkan sebagai tempat “curhat”.
Dengan memasukkan prompt tertentu, ChatGPT bisa berganti peran sesuai dengan keinginan pengguna. Mulai dari teman curhat, diskusi, mentor, bahkan seseorang yang “diidamkan” untuk diajak berbicara. Chatbot AI Dianggap sebagai tempat curhat paling nyaman. ***





