Pemerintah menyebut Indonesia lima besar dunia pengguna ChatGPT dan korporasinya paling agresif se-ASEAN, tapi survei nasional terbaru justru mencatat pemakaian AI oleh masyarakat menurun.Dua klaim ini seharusnya tidak bisa hidup berdampingan — tapi keduanya sama-sama datang dari sumber resmi minggu ini.
Rabu, 15 Juli 2026, di sebuah forum diskusi di Jakarta Pusat, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria bicara dengan nada yakin. Indonesia, katanya, masuk lima besar dunia untuk penggunaan ChatGPT dalam coding, analisis data, dan pendidikan.
Klaim itu terdengar meyakinkan. Sampai kita membuka laporan lembaga lain yang justru bicara arah sebaliknya.
Hanya dua bulan sebelumnya, survei tahunan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menemukan cuma 18,2 persen dari 235 juta pengguna internet nasional yang pernah menjajal AI — turun dari 27,3 persen setahun sebelumnya. Bukan naik. Turun.
Dua data resmi, dua bulan berdekatan, dan dua cerita yang bertolak belakang soal seberapa akrab Indonesia dengan AI. Salah satunya pasti kurang tepat menangkap kenyataan — atau, yang lebih mungkin, keduanya benar untuk Indonesia yang berbeda.
Ketika Klaim Global dan Data Rumah Tangga Tidak Sinkron
APJII menggarap surveinya serius: 8.700 responden di 38 provinsi, dikumpulkan Februari–Maret 2026. Alasan orang menghindari AI juga bergeser maknanya.
Setahun lalu, mayoritas nonpengguna beralasan sederhana: tidak tahu apa itu AI (46,6 persen). Tahun ini angka itu turun ke 35,5 persen — sosialisasi mulai sampai.
Tapi yang menggantikannya lebih tajam. Sebanyak 43,1 persen kini terang-terangan bilang tidak butuh, melonjak dari 22,7 persen tahun lalu. Publik Indonesia sudah tahu soal AI. Mereka cuma menolak.
[GRAFIK: Tren penggunaan AI vs penetrasi internet Indonesia, 2025–2026, sumber APJII]
Gen Z jadi pengecualian: 29,4 persen dari kelompok kelahiran 1997–2012 mengaku aktif memakai AI, jauh di atas milenial (16,7 persen) dan Gen X (7,5 persen). Kesenjangan generasi inilah yang membuat klaim “lima besar dunia” terasa janggal — kalau benar, siapa sebenarnya yang dihitung?
Korporasi Melaju Kencang, Rumah Tangga Jalan di Tempat
Di lantai bursa, ceritanya memang berbeda. Survei The Business Times Insights: ASEAN Intelligence 2026 — digarap bersama lembaga riset Kantar terhadap lebih dari 500 pemimpin bisnis di enam negara ASEAN — menempatkan Indonesia sebagai negara dengan proporsi “AI First Movers” tertinggi di kawasan: 62 persen perusahaan.





