Presiden RI Prabowo Subianto mengingatkan kepada jajaran kepolisian untuk selalu berpihak kepada rakyat dan membela kepentingan masyarakat. Presiden menyampaikannya saat memberikan arahan di acara apel Kasatwil Polri di Akademi Kepolisian, Semarang, Jawa Tengah, Rabu, 11 Desember 2024.
Pesan Presiden itu terlontar ketika citra kepolisian di Semarang sedang menurun di mata publik—utamanya warganet—menyusul munculnya dugaan upaya rekayasa terhadap kasus kematian Gamma Rizkynanta Oktafandy (17), pelajar SMKN 4 Semarang.
Gamma meninggal dunia setelah ditembak oleh anggota Satreskoba Polres Semarang, Aipda Robig Zulkarnaen, pada Ahad, 24 November 2024 dinihari.
Sempat muncul upaya dari Polrestabes Semarang, yang dipimpin oleh Kapolrestabes Kombes Irwan Anwar, untuk menarasikan bahwa Robig menembak Gamma karena remaja itu terlibat tawuran. Kapolres bahkan sudah menggelar konferensi pers terkait skenario itu pada Rabu, 27 November 2024.

Irwan, ditemani oleh oknum wartawan media nasional, juga kedapatan mendatangi keluarga Gamma di Semarang, yang intinya meminta agar keluarga mengikhlaskan kematian korban dan tidak memperpanjang perkara itu.
Kombes Irwan bahkan juga menceritakan skenario versinya itu di hadapan Komisi III DPR RI, ketika diundang untuk rapat dengar pendapat (RDP) di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa, 3 Desember 2024.
Namun, pada RDP yang sama, Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jawa Tengah Kombes Aris—yang turun tangan ikut mengusut—menyampaikan bahwa tidak ada tawuran. Sebuah rekaman kamera pengintai atau rekaman CCTV yang beredar belakangan juga menunjukkan tawuran yang disebut Kapolrestabes Semarang itu tidak pernah ada.
Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) Polda Jateng yang menyidangkan Robig pada Senin, 9 Desember 2024, pun menyimpulkan Aipda Robig “menembak orang yang lewat” dalam kasus Gamma dan kawan-kawannya. Artinya, tidak ada tawuran.
Munculnya narasi tawuran dari Polrestabes Semarang, yang akhirnya terbantah dengan bukti-bukti materiil yang muncul ke publik membuat publik bersuara. Muncul dugaan massif bahwa Kapolrestabes berupaya merekayasa peristiwa kematian Gamma.
Publik, terutama warganet, pun beramai-ramai mendesak agar Polri mengusut tuntas kasus tersebut. Narasi yang dibangun adalah, polisi telah ‘membunuh’ Gamma dua kali: membunuh secara fisik dengan tembakan, dan membunuh karakternya dengan menyebut Gamma sebagai anggota gangster yang terlibat tawuran.
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang juga telah menyampaikan desakan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit agar mencopot Kombes Irwan Anwar.
Kabareskrim Polri Komjen Wahyu Widada bahkan juga menyatakan memberikan atensi kepada kasus Semarang. Polri disebutnya telah menurunkan tim untuk menangani kasus ini setransparan mungkin.
Di tengah menurunnya citra kepolisian di Semarang itulah Presiden Prabowo menyampaikan pesan agar polisi selalu berpihak kepada rakyat.
“Saya minta saudara-saudara, saya mengimbau, bukan atas nama Prabowo, tetapi atas nama rakyat Indonesia. Atas nama orang tuamu. Atas nama anak-anakmu, kepolisian berpihaklah, dan selalu membela kepentingan rakyat Indonesia,” pesan Prabowo.
Prabowo juga menekankan agar kepolisian selalu membela bangsa dan negara dengan segala kekuatan dan daya upaya, dengan tetap menjunjung profesionalisme dalam bertugas.
“Dengan polisi yang kuat, militan, yang profesional, kita selamatkan masa depan kita. Kita selamatkan bangsa,” kata Prabowo.
“Bangsa dan rakyat sangat memerlukan polisi yang terampil,” tutupnya.***





