Penjajahan adalah ‘Proses’, Bukan ‘Event’, dan Indonesia Dijajah 3,5 Abad Itu Bukan Mitos

Beberapa sejarawan mendefinisikan "penjajahan" di Indonesia dimulai sejak Cornelis de Houtman membangun VOC di Indonesia. (Istimewa)
Belakangan banyak muncul narasi yang menyebut jika wacana Belanda menjajah Indonesia selama kurang lebih 350 tahun hanya mitos. Namun, data-data sejarah yang dinarasikan oleh para pendiri bangsa ini membuktikan bahwa semua itu adalah fakta.

__________

Narasi tentang Indonesia tidak dijajah 3,5 abad itu muncul karena beberapa sejarawan berpendapat penjajahan di Indonesia dimulai setelah VOC bangkrut pada pucuk abad ke-18, tepatnya tahun 1799, dan Pemerintah Hindia Belanda secara resmi menguasai Indonesia.

Menurut para sejarawan itu, VOC yang datang sejak abad ke-17 di Tanah Air itu ‘hanya’ untuk berdagang, bukan menjajah.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, para Bapak Bangsa ini berpendapat bahwa penjajahan Indonesia berlangsung selama 3,5 abad, terhitung sejak VOC datang ke Kepulauan Nusantara.

Narasi ini dikampanyekan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, dan Tan Malaka.

Pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, Sukarno pernah menulis narasi durasi penjajahan itu dalam artikel berjulul Koloniaal Onderwijsstelsel dan Nasibnja Anak Djadjahan.

Artikel dimuat dalam Majalah Fikiran Ra’jat—majalah yang dia pimpin—terbit pada 16 Desember 1932.

Dalam artikel itu Sukarno menulis, “Telah 300 tahun lebih lamanya bangsa kita kehilangan kemerdekaan, dan 300 tahun lebih pula tanah kita terjajah oleh bangsa asing.”

Setelah Indonesia merdeka, Sukarno sebagai Presiden RI tercatat tiga kali menyampaikan pidato tentang penjajahan berabad-abad itu.

Pertama, dalam pidato berjudul Sekali Merdeka Tetap Merdeka yang disampaikan pada 17 Agustus 1946 di Yogyakarta. Kedua, dalam pidato Berilah Isi Kepada Hidupmu, pada 17 Agustus 1956 di Jakarta. Dan ketiga, dalam pidato Genta Suara Republik Indonesia, yang disampaikan Sukarno pada 17 Agustus 1963 di Jakarta.

Sukarno, dalam berbagai pidatonya, selalu menyebut Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. (Arsip Nasional)

Sementara itu, Mohammad Hatta memang tidak secara tersurat menuliskan “350 tahun” terkait durasi penjajahan di Indonesia. Namun, dalam tulisannya berjudul Pengaruh Koloniaal Kapitaal di Indonesia—bagian dari Kumpulan Karangan, halaman 244—Hatta menjelaskan bahwa maksud Belanda menguasai Indonesia adalah untuk “memungut hasil”.

“Dahulu pekerjaan ini dijalankan oleh Oost-Indische Compagnie (VOC),” tulis Hatta. “Kemudian (dijalankan) oleh pemerintah (Hindia Belanda) sendiri, dengan jalan cultuurstelsel, dan akhirnya (diambilalih) oleh kaum kapitalis partikelir menurut tanggungan sendiri, sedangkan sekarang pemerintah Hindia Belanda menjadi penjaganya saja.”

Mohammad Hatta mendefinisikan “penjajahan” dari perspektif ekonomi dan penguasaan aset. (Istimewa)

Dari tulisan itu, tampak jelas bahwa Hatta bukannya tidak mengerti jika Pemerintah Hindia Belanda baru resmi menguasai wilayah Nusantara setelah VOC bangkrut. Namun, dia juga menghitung era VOC sebagai masa penjajahan.

Hatta melihat VOC dan Pemerintahan Hindia Belanda sebagai satu kesatuan yang berlanjut dengan keseluruhan cerita penjajahan Belanda di Indonesia.

Hatta memandang seperti itu karena dia tak hanya melihat status “legal formal” saja tentang siapa yang berkuasa, tetapi juga melihat struktur relasi yang berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, Hatta membagi masa pemerintahan kolonial Belanda dalam dua periode—yang secara legal formal berada dalam sistem pemerintahan kolonial yang sama.

Pertama, masa cultuurstelsel, ketika negara menjadi aktor dominan dalam tata-kelola ekonomi politik di Hindia Belanda. Dan kedua, pasca-penghapusan tanam paksa, yang berkaitan dengan Revolusi Liberal di Eropa, ketika negara mengurangi perannya dalam perekonomian dan membiarkan swasta Eropa mendominasi.

Tan Malaka juga sering menyebut “350 tahun” ketika membahas durasi penjajahan.

Dalam buku Materialisme Dialektika dan Logika atau MADILOG, yang terbit 1943, pada bab 3 Ilmu Pengetahuan dan Sains, Tan menuliskan:

“Walaupun Indonesia terkaya di dunia, tetapi selama sains tiada merdeka, seperti politik negaranya, maka kekayaan Indonesia tidak akan menjadikan penduduk Indonesia senang, melainkan semata-mata akan menyusahkannya, seperti 350 tahun belakangan ini. Politik dan kecerdasan bangsa asing akan memakai kekuatan Indonesia untuk memastikan belenggu Indonesia seperti ular kobra memeluk mangsanya”.

Buku Madilog karya Tan Malaka.

Pos terkait