As`ad Said Ali: Berawal dari Muktamar NU Lampung yang Penuh Rekayasa, Wajar NU Hari Ini Kacau

JAKARTA — As’ad Said Ali, mantan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2010-2015, menyuarakan keprihatinannya atas kondisi PBNU saat ini yang dinilai penuh konflik dan kekacauan. Menurutnya, situasi ini merupakan dampak dari Muktamar NU ke-34 di Lampung pada Desember 2021, yang disebutnya sarat rekayasa.

Kilasan sejarah mencatat bahwa dalam Muktamar NU ke-34, As’ad maju sebagai salah satu dari lima calon Ketua Umum PBNU. Selain As’ad, calon lainnya adalah Yahya Cholil Staquf, Said Aqil Siroj, Marzuki Mustamar, dan Ramadlan Bayo. Hasil perhitungan suara menempatkan Yahya di posisi teratas dengan 327 suara, disusul Said Aqil dengan 203 suara, sementara As’ad hanya meraih 17 suara, Marzuki Mustamar 2 suara, dan Ramadlan Bayo 1 suara. Dua suara lainnya dinyatakan tidak sah.

Pada Rapat Pleno V di Gedung Universitas Lampung, Jumat, 24 Desember 2021, Yahya Cholil Staquf resmi terpilih sebagai Ketua Umum PBNU melalui voting langsung dengan perolehan 337 suara. Sementara Said Aqil Siroj memperoleh 210 suara, dan satu suara dinyatakan tidak sah.

Dalam sebuah acara bertajuk “Silaturahmi Nasional Penerapan Khittah NU Dalam Politik Kebangsaan,” yang diselenggarakan oleh Akademi Kepemimpinan Dipantara di Hotel Azana Suite Antasari, Jakarta Selatan, Rabu (21/8/2024), As’ad menegaskan bahwa hasil Muktamar Lampung tersebut membawa dampak buruk bagi PBNU.

Bacaan Lainnya

“Kisruh dalam tubuh NU saat ini adalah produk dari Muktamar Lampung yang penuh rekayasa. Hasil muktamar itu menciptakan ketidakstabilan dalam organisasi, sehingga wajar jika NU kini penuh dengan konflik dan kekacauan,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat politik A.S. Hikam, yang juga menjadi narasumber dalam acara tersebut, turut menyampaikan keprihatinannya. Menurutnya, gerakan NU kini telah menyimpang dari khittah yang seharusnya menjadi landasan utama organisasi.

“Khittah NU kini tampak tidak fokus lagi pada urusan sosial-keagamaan yang menjadi tugas pokok PBNU. Justru, energi organisasi banyak terkuras oleh isu-isu politik yang seharusnya bisa dihindari,” ungkap Hikam.

Pos terkait