JAKARTA—Bahlil Lahadalia, yang terindikasi kuat sebagai ‘loyalis’ Presiden Joko Widodo alias Jokowi, resmi menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Partai beringin menunjuknya dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-11 pada Rabu (21/8/2024). Bahlil membantah ada intervensi Jokowi dalam proses keterpilihannya, namun mengingatkan partainya agar hati-hati dengan ‘Raja Jawa’.
“Saya menanyakan apakah seluruh hadirin yang hadiri peserta Munas XI setuju untuk kita tetapkan Bapak Bahlil Lahadalia menjadi Ketua Umum DPP Golkar periode 2024-2029? Setuju?” kata Ketua Sidang, Adies Kadir.
“Setuju,” jawab para peserta musyawarah.

Bahlil, yang baru saja dilantik sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada Senin (19/8/2024) oleh Presiden Jokowi, terpilih secara aklamasi dalam Munas ke-11 partai di Jakarta—setelah Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekenomian, mundur sebagai ketua umum partai pada 9 Agustus lalu.
Sebenarnya Golkar menjadwalkan Munas pada Desember mendatang. Namun, pengunduran diri Airlangga yang mendadak membuat agenda tersebut harus dimajukan. Dan dalam munas kali ini, Bahlil adalah satu-satunya kandidat ketua umum.
Pada Pemilu tahun ini, Golkar meraih 15 persen suara, menjadikannya partai dengan perolehan terbesar kedua di bawah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mendapat 16 persen suara.
Para analis menilai, langkah Bahlil menjadi Ketum Golkar merupakan manuver Jokowi agar tetap punya pengaruh di pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Jokowi, saat dia sudah lengser sebagai presiden Oktober mendatang.
Usai terpilih, Bahlil menyampaikan pidatonya. Saat itulah dia mengatakan bahwa partainya harus hati-hati dengan sosok ‘Raja Jawa’ jika tidak ingin celaka.
“Saya mau kasih tahu saja: jangan coba-coba main-main (dengan) barang ini (‘Raja Jawa’). Waduh, ini ngeri-ngeri sedap barang ini, saya kasih tahu,” ujar Bahlil, tanpa merinci siapa yang dimaksudnya sebagai ‘Raja Jawa’.





