Fenomena El Nino berpotensi memperpanjang kekeringan dan meningkatkan risiko krisis air di berbagai wilayah Indonesia. Pakar Universitas Airlangga (Unair) mengingatkan mitigasi El Nino tidak boleh hanya mengandalkan respons setelah bencana terjadi. Masyarakat juga perlu menyiapkan cadangan air mandiri.
Dosen Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Unair, Dr. Aditya Prana Iswara, ST., MSc., PhD., mengatakan mitigasi El Nino akan sulit berjalan optimal jika penanganan bencana masih cenderung reaktif.
Menurutnya, persoalan tersebut salah satunya dipengaruhi tata kelola bencana yang belum sepenuhnya terintegrasi. Ego sektoral antarlembaga juga masih menjadi tantangan dalam menghadapi bencana yang berulang, termasuk kekeringan dan banjir.
“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan. Baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” ujar Aditya, dikutip Kamis (20/8/2026).
Jangan Tunggu Krisis Air
Aditya menilai masyarakat perlu mulai menyiapkan cadangan air sebelum kekeringan semakin parah. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membuat reservoir atau tempat penyimpanan air secara mandiri.
Sumber air tersebut dapat berasal dari air hujan yang dikumpulkan melalui sistem rain harvesting atau pemanenan air hujan.
“Kita harus punya reservoir sendiri. Dari mana kita ambil airnya? Kita bisa mengambil air ketika posisi sumber air masih banyak, contohnya ketika sedang hujan. Kita bisa melakukan rain harvesting,” katanya.
Menurut Aditya, air dari talang rumah dapat diarahkan menuju tandon setelah melalui proses penyaringan dan sterilisasi. Meskipun jumlahnya belum tentu mampu memenuhi seluruh kebutuhan harian, cadangan tersebut tetap dapat membantu ketika sumber air mulai terbatas.
“Talang kita arahkan ke satu sudut, satu sisi ke arah tandon di bawah dengan melewati proses filter lebih dulu sehingga nanti airnya bisa digunakan,” ujarnya.
Kekeringan Bisa Picu Masalah Kesehatan
Ancaman kekeringan tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya ketersediaan air. Ketika sumber air semakin dalam, akses masyarakat terhadap air bersih juga dapat terganggu.
Aditya mencontohkan sumber air yang sebelumnya dapat ditemukan pada kedalaman sekitar satu meter dapat turun hingga 10 meter saat kekeringan. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan tingkat higienitas masyarakat dan meningkatkan risiko munculnya penyakit.
Durasi kekeringan juga dapat dipengaruhi perubahan iklim serta pola konsumsi masyarakat yang belum ramah lingkungan.
Karena itu, mitigasi El Nino membutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah perlu menjaga sumber-sumber air potensial, sementara masyarakat harus ikut menjaga lingkungan dan menggunakan air secara bijak.
Kurangi Over Consumption
Aditya juga mendorong masyarakat menerapkan pola konsumsi yang lebih ramah lingkungan atau green consumption.
Menurutnya, penggunaan sumber daya perlu disesuaikan dengan kebutuhan sehingga tekanan terhadap lingkungan dapat dikurangi.
“Kita harus mulai berbicara terkait dengan green consumption, jangan terlalu over consumption. Kita harus menata kebutuhan sesuai dengan apa yang benar-benar kita butuhkan,” pungkasnya.
Dengan pendekatan tersebut, menghadapi El Nino tidak cukup hanya menunggu bantuan ketika kekeringan terjadi. Cadangan air, penghematan, pemanenan air hujan, dan kesiapan menghadapi bencana perlu dibangun sebelum krisis air benar-benar datang.***





