80 Persen Anak Indonesia Kekurangan Protein Hewani, Berpengaruh pada Kualitas SDM

Ilustrasi protein hewani. (iStock).
Pakar gizi menyebut anak-anak Indonesia  kekurangan asupan protein hewani. Kondisi ini memengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM) di negara ini.

Menurut Prof. Epi Taufik, pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ada lebih dari 80 persen anak dan remaja Indonesia yang mengalami defisit protein hewani.

Di saat bersamaan, sebagaimana data yang dirilis Badan Pemeringkat Internasional, tingkat Intelligence Quotient atau IQ masyarakat Indonesia hanya 78,49.

“Konsumsi daging dan susu Indonesia terendah di ASEAN. Jika melihat skor PISA (Programme for International Student Assessment), kemampuan literasi, membaca, matematika, sains Indonesia rendah juga. Kalah dengan Filipina, Vietnam dan menang sedikit dari Kamboja,” kata Epi di Jakarta, Jumat, 31 Januari 2025.

Bacaan Lainnya

“Dari beberapa indikator itu, ada korelasi antara konsumsi protein hewani dengan kualitas SDM. Itu terbukti,” tegasnya.

Epi juga menjelaskan bahwa protein hewani berperan penting untuk menjaga fungsi kekebalan tubuh, struktur sel, dan proses tumbuh kembang anak. Protein jenis ini punya komposisi asam amino esensial lebih lengkap dibandingkan protein nabati.

Protein hewani juga memiliki biological value dan net protein utilization (NPU) yang lebih tinggi dibandingkan protein nabati. Karena itulah jumlah protein yang diserap tubuh dari protein hewani—yang dipergunakan untuk pemeliharaan sel-sel dan pertumbuhan—juga lebih tinggi.

Karena itulah, kata Epi, kekurangan protein hewani dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan atau stunting, lemahnya sistem imun, dan rendahnya konsentrasi belajar.

Tim Dewan Pakar Badan Gizi Nasional (BGN) ini mengingatkan jika edukasi tentang pentingnya protein hewani dapat membantu mencegah malnutrisi dan meningkatkan kualitas kesehatan anak.

“Orang tua dan guru mesti bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung konsumsi makanan sehat di rumah dan sekolah. Termasuk di dalamnya pemilihan makanan dan jajanan yang mengandung protein hewani,” katanya.

Sementara itu, penelitian lain menyebutkan bahwa rendahnya konsumsi protein hewani memiliki korelasi dengan angka stunting di Indonesia yang cukup tinggi.

Dalam Buku Saku Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) pada Tahun 2021, misalnya, disebutkan jika kasus stunting Indonesia masih berada di angka 24 persen.

Pos terkait