Partai Komunis Indonesia (PKI), pada kongres di Jakarta Juni 1924, meresmikan pergantian nama mereka dari Perserikatan Komunis Hindia Belanda menjadi PKI dengan tujuan memperkuat identitas sesuai platformnya: Indonesia merdeka.
PKI setidaknya tercatat sebagai organisasi pertama yang memakai nama “Indonesia”. Bahkan, PKI mengklaim didirikan sebagai organisasi yang bertujuan untuk mendapatkan kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 1926-1927, PKI tercatat sebagai organisasi modern pertama yang berani memberontak dengan perlawanan besenjata melawan Kolonial Belanda.
Setahun sesudah kongres PKI 1924, pada tahun 1925, Sutan Sjahrir dan Muhammad Hatta sepakat mengubah nama organisasi yang mereka dirikan di Belanda, Indische Vereniging, menjadi Perhimpunan Indonesia. Dua tahun kemudian, giliran Sukarno yang berani mendirikan organisasi politik bernama Partai Nasional Indonesia (PNI).
Di sisi lain, sejarawan Firdaus A.N. memaparkan bahwa dalam rapat-rapat perkumpulan, bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia.
“Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri,” papar Firdaus.
Karena itu, menurut Firdaus, Boedi Oetomo tidak memiliki andil sedikit pun dalam perjuangan kemerdekaan. Sebab, para pendiri dan anggotanya merupakan pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan mereka atas Indonesia. Boedi Oetomo, kata Firdaus, juga tidak turut mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan, karena bubar pada tahun 1935.
Berbeda dengan Boedi Oetomo yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura, hanya menerima keanggotaan dari kedua suku tersebut, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura, Sarekat Islam lebih menasional.
Keanggotaan Sarekat Islam terbuka bagi semua rakyat Indonesia. Sebab itu, susunan pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku. Haji Samanhudi dan H.O.S. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur; Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat; dan AM. Sangaji dari Maluku. Sifat menasional Sarekat Islam juga tampak dari penyebarannya yang menyentuh hingga kepelosok-pelosok desa.
Pada tahun 1916, tercatat ada 181 cabang SI di seluruh Indonesia, dengan tak kurang dari 700.000 orang tercatat sebagai anggotanya. Pada tahun 1919, jumlah tersebut melonjak drastis hingga mencapai 2 juta orang. Angka yang fantastis kala itu. Sedang Boedi Oetomo, pada masa keemasannya saja hanya beranggotan tak lebih dari 10.000 orang.





