Menurut Pram, Sarikat Priyayilah yang seharusnya menjadi peletak dasar pertama era kebangkitan atau kebangunan nasional. Struktur keanggotaan Sarikat Priyayi pun tak hanya menampung priyayi, tetapi juga masyarakat biasa atau pribumi. Sarikat juga mendirikan sekolah dasar atau fro’bel onderwijs, yang berani menerima anak murid yang tidak bisa diterima di sekolah Belanda.
Sementara Boedi Oetomo, menurut Pram, dapat dikatakan sebagai organisasi inklusif, karena hanya menampung kenggotaan dari kalangan priyayi. Belum lagi sekolah-sekolah yang didirikannya hanya menampung anak-anak dari kalangan priyayi pula.
Pram sampai mengkritik Boedi Oetomo sebagai kaki tangan Belanda. Sayangnya, kita tidak bisa melacak dan menemukan tanggal dan bulan pendirian Sarikat Priyayi—bahkan dalam buku Pramoedya yang membahasnya, Sang Pemula.
Pram hanya mencantumkan tahun pendirian Sarikat Priyayi, tetapi minus tanggal dan bulan berapa. Maka itulah, jika pendirian Sarikat Priyayi hendak dijadikan dasar hari peringatan Kebangkitan Nasional, tentu tidak akan ada namanya peringatan hari ulang tahun.
Sarikat Priyayi tidak bisa bertahan lama karena persoalan finansial dan pencekalan izin resmi dari pemerintah Belanda. Diperkirakan umur Sarikat Priyayi hanya di kisaran 3 — 4 tahun. Ini bisa dilacak dari berdirinya pada 1906 lalu, di mana Tirto ikut pula dalam pendirian Sarikat Dagang Islam pada 1909–yang menjadi penanda bubarnya Sarikat Priyayi.
Sementara itu, sejarawan Taufik Abdullah menyebut, Hari Kebangkitan Nasional adalah sebuah peristiwa yang sengaja dilebih-lebihkan. Boedi Oetomo, menurut Taufik, tak lebih dari sekadar organisasi himpunan kesukuan Jawa, yang kemudian berubah menjadi organisasi konservatif khusus priyayi, hanya berfokus pada aspek sosial dan kebudayaan. Bisa dibilang, kata Taufik, Boedi Oetomo tidak mencerminkan cita-cita menuju Indonesia merdeka secara nyata. Jika dibandingkan dengan Sarekat Islam yang memperjuangkan nasib rakyat pribumi menengah kebawah, maka, menurut Taufik, Boedi Oetomo hanya memperjuangkan golongan tertentu.
Asvi Marwan Adam, sejarawan LIPI juga mengkritisi hari lahir Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, yang dijadikan dasar Harkitnas. Dia mempertertanyakan implikasi perubahan apa dengan berdirinya Boedi Oetomo.
Aswi juga mempertanyakan peran perjuangan BO yang kurang greget karena hanya bergerak di bidang kebudayaan dan pendidikan tanpa unsur perlawanan secara langsung terhadap kolonialisme. Lebih dari itu banyak kalangan menilai Boedi Oetomo terlalu primor bila dianggap sebagai inspirasi kebangkitan nasional.▪️





