Adanya faktor Islam dinilai membuat Sarekat Islam lebih progresif, karena tidak terbatas pada kelompok suku tertentu, dan menginginkan adanya kemajuan bagi seluruh rakyat. Salah satu misi pembentukan Sarekat Islam, sebagai dirumuskan oleh Tirto Adi Suryo ialah: “Tiap-tiap orang mengetahuilah bahwa masa yang sekarang ini dianggap zaman kemajuan. Haruslah sekarang kita berhaluan: janganlah hendaknya mencari kemajuan itu cuma dengan suara saja. Bagi kita kaum muslimin adalah dipikulkan wajib juga akan turut mencapai tujuan itu, dan oleh karena itu, maka telah kita tetapkanlah mendirikan perhimpunan Sarekat Islam” Demikian dicatat oleh Deliar Noer dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. (1982)
Berdasarkan alasan tersebut, tampak adanya sikap kepeloporan perubahan dan perbaikan bagi seluruh warga negara yang lebih merakyat, yang didorong atas keyakinan Islam, yang dimotori oleh Sarekat Islam.
Cakupan kegiatan Sarekat Islam yang meliputi seluruh rakyat Indonesia juga tampak dalam tujuan organisasi tersebut, yang termaktub dalam anggaran dasarnya: “Akan berikhtiar, supaya anggota-anggotanya satu sama lain bergaul seperti saudara, dan supaya timbullah kerukunan dan tolong menolong satu sama lain antara sekalian kaum muslimin, dan lagi dengan segala upaya yang halal dan tidak menyalahi wet-wet negeri (Surakarta) dan wet-wet Gourvernement, berikhtiar mengangkat derajat rakyat agar menimbulkan kemakmuran, kesejahteraan dan kebesarannya negeri”.
Organisasi ini pun berkembang dengan cepat di daerah-daerah lain di Jawa. Bahkan, SI ini menyebar juga ke luar Jawa, seperti di Sumatera Selatan. Namun, rupanya keberadaan SI dirasa kurang nyaman oleh penguasa Keresidenan Surakarta. Sarekat dituduh telah menimbulkan konflik dengan pedagang-pedagang China.
Residen Solo pun membekukan Sarekat Islam. Namun, pembekuan dicabut kembali, dengan syarat adanya perubahan anggaran dasar, sehingga organisasi ini hanya terbatas pada daerah Surakarta. Namun demikian, sekalipun bersifat lokal secara administratif, cabang-cabang SI tetap berkembang dengan anggaran dasar masing-masing.
Sementara itu, sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, menilai kebangkitan nasional Indonesia sebenarnya sudah terjadi ketika Raden Mas Tirto Adi Suryo membangun Sarekat Priyayi pada tahun 1906—dua tahun sebelum Boedi Oetomo lahir.
Dalam Tetralogi Pulau Buru atau Tetralogi Bumi Manusia, Pram membeber fakta sejarah dengan dibungkus novel-novelnya yang termasyhur terkait peristiwa kebangkitan tersebut. Menurutnya, salah satu bagian kunci sejarah kebangkitan nasional yang ditenggelamkan melalui mata sejarah pendidikan nasional kita antara lain peran R.M. Tirto Adhi Suryo. Sosoknya yang diidentikkan dengan Minke, tokoh utama novel Pram dalam tetraloginya, merupakan seorang bangsawan yang mempelopori berdirinya kebangkitan rakyat. Melalui instrumen pers, Tirto membangkitkan kesadaran kritis masyarakat terhadap perlunya bangkit melawan kolonialisme dan imperialisme.





