Amien membuka pidatonya dengan salam dan pengantar religius, lalu mengutip hadis yang menekankan penyempurnaan akhlak mulia sebagai inti ajaran Islam. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Amien menegaskan bahwa akhlak, etika, dan moralitas merupakan perkara sentral dalam kehidupan manusia. Ia juga mengutip adagium hukum, There is no law without morality atau “tidak ada hukum tanpa moralitas”. Menurut dia, moral merupakan fondasi kokoh sebuah negara. Bila fondasi itu goyah, bangunan negara pun, dalam pandangannya, dapat ikut terguncang.
“Moral itu fondasi yang sangat kokoh bagi sebuah negara. Kalau fondasinya compang-camping dan goyah, bangunan di atasnya pada akhirnya bisa runtuh,” ujarnya.
Amien kemudian mengaitkan pandangan tersebut dengan dinamika di sekitar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyoroti hubungan kerja Presiden Prabowo dengan Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, yang menurutnya telah memicu perbincangan luas di ruang publik. Ia juga menyinggung kisah Nabi Luth AS dalam konteks pentingnya menjaga moralitas.
Amien menyebut, bila polemik yang berkembang di ruang publik tidak direspons secara jelas dan tegas, pemerintah berisiko mengalami penurunan kepercayaan politik dari masyarakat.
“Kalau tidak ada kejelasan penyelesaiannya, Presiden bisa kehilangan *political trust*. Jika kepercayaan politik hilang, legitimasi bisa ikut tergerus,” katanya.
Dalam bagian akhir pidatonya, Amien meminta Presiden menunjukkan kepemimpinan yang tegas, menjaga fokus pemerintahan pada kerja-kerja kebangsaan, serta memastikan lingkungan Istana tetap terjaga marwahnya sebagai simbol negara. “Tunjukkan kepemimpinan Anda. Fokus bekerja untuk bangsa dan negara. Jaga marwah institusi,” ujarnya.
Amien menutup pidatonya dengan harapan agar pemerintahan tetap berjalan baik dan polemik yang berkembang tidak mengganggu stabilitas nasional. *





