Pengetahuan lokal—yang selama berabad-abad memelihara uwi—kerap dianggap tidak cukup “ilmiah” untuk masuk ke dalam dokumen perencanaan nasional. Akibatnya, dalam banyak peta kebijakan pangan, uwi bahkan tidak muncul sebagai variabel strategis. Ubi dicatat. Uwi dilupakan.
Membaca Ulang Pilihan Pangan
Di tengah krisis iklim, ketergantungan impor, dan rapuhnya sistem monokultur, mengabaikan uwi berarti menyempitkan pilihan. Ia berarti menutup pintu pada sumber pangan adaptif yang telah lama teruji oleh sejarah. Jika ubi merepresentasikan pertanian modern yang cepat dan responsif terhadap pasar, maka uwi adalah arsip hidup ketahanan pangan Nusantara—pelan, tahan, dan menyatu dengan lanskap.
Keserupaan warna tidak seharusnya menghapus perbedaan makna. Uwi ungu bukan ubi ungu. Menyadari perbedaannya adalah langkah awal untuk merancang masa depan pangan yang lebih beragam, lebih lentur, dan lebih berakar pada konteks Indonesia sendiri.***
__________
Daftar Sumber Tervalidasi
- Bellwood, P. (2005). First Farmers: The Origins of Agricultural Societies. Blackwell Publishing.
- FAO. Roots, Tubers, Plantains and Bananas in Human Nutrition.
- Sri Nabawiyati Nurul Makiyah et al., publikasi UMY tentang umbi fungsional dan imunologi.
- Denys Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya.
- Flora of Java, Vol. I–III.





