Kini, setelah wafatnya, Iran memasuki fase transisi yang sensitif. Struktur konstitusional memang telah menyiapkan mekanisme suksesi. Namun dalam politik, simbol sering kali lebih kuat dari teks hukum. Khamenei bukan hanya pemegang jabatan; ia adalah wajah dari kontinuitas revolusi.
Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang tidak sekadar administratif. Ia menyentuh psikologi kolektif sebuah bangsa yang selama puluhan tahun memaknai dirinya sebagai benteng terakhir melawan dominasi asing.
Iran kehilangan pemimpin. Timur Tengah kehilangan satu poros penting dalam percaturan geopolitik. Dan sejarah, sekali lagi, mencatat bahwa figur-figur besar tidak hanya membentuk zamannya—mereka juga meninggalkan pertanyaan tentang arah zaman berikutnya.***





