Transaksi digital Ramadan 2026 melonjak, risiko penipuan ikut naik.
Ramadan 2026 diproyeksikan kembali menjadi puncak transaksi digital nasional. Momentum belanja daring yang meningkat juga dibarengi lonjakan risiko kejahatan siber yang menyasar konsumen.
Data Bank Indonesia mencatat nilai transaksi uang elektronik mencapai Rp44,4 triliun pada Juli 2025. Angka itu diperkirakan terus tumbuh dua digit setiap tahun, terutama saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri.
Berbagai laporan industri digital menunjukkan periode tersebut secara historis menjadi puncak konsumsi masyarakat. eCommerce kian berperan memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari fesyen hingga bahan pangan.
Namun, lonjakan aktivitas digital juga membuka celah baru bagi pelaku kejahatan siber.
Modus Phishing hingga Impersonasi
Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, mengatakan modus yang paling banyak ditemukan adalah phishing berbasis pesan instan, impersonasi layanan pelanggan, serta penyalahgunaan tautan pelacakan pengiriman palsu.
“Risiko keamanan transaksi online memang masih menjadi tantangan nyata di Indonesia dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menjawab tantangan ini. Di tengah meningkatnya aktivitas belanja online, khususnya menjelang Ramadan, konsumen perlu semakin waspada terhadap modus penipuan digital yang kian beragam. Literasi keamanan digital menjadi kunci agar masyarakat dapat menikmati kemudahan eCommerce tanpa mengorbankan keamanan dan kenyamanan,” kata Pratama, dikutip Minggu (1/3/2026).
Menurutnya, serangan phishing dan rekayasa sosial cenderung meningkat signifikan menjelang periode belanja besar seperti Ramadan dan Hari Belanja Online Nasional.
Enam Tips Aman Berbelanja
Pratama membagikan enam langkah praktis untuk memperkuat keamanan transaksi digital selama Ramadan.
Pertama, gunakan kata sandi yang kuat dan unik. Kombinasikan huruf, angka, dan karakter khusus. Hindari penggunaan kata sandi yang sama di berbagai akun.
Aktifkan autentikasi dua faktor atau verifikasi biometrik untuk menambah lapisan perlindungan.
Kedua, pastikan transaksi dilakukan di dalam aplikasi atau situs resmi. Periksa alamat URL sebelum memasukkan data pribadi.
Platform eCommerce tidak dapat menelusuri transaksi yang dilakukan di luar sistem resmi.
Ketiga, jangan mengeklik tautan dari kanal tidak resmi. Modus terbaru mengatasnamakan jasa logistik dan meminta pengguna mengakses tautan pelacakan palsu.
Seluruh informasi pengiriman tersedia secara real-time di aplikasi resmi.
Keempat, waspadai permintaan instalasi aplikasi di luar toko resmi seperti Google Play Store atau App Store.
Pelaku kerap mengirim file APK melalui pesan instan. Aplikasi berbahaya ini dapat meminta akses membaca SMS, notifikasi, hingga merekam layar.
Tidak ada platform resmi yang meminta pelanggan berbagi layar untuk memproses transaksi.
Kelima, jangan pernah membagikan kode OTP kepada siapa pun. Kode ini bersifat rahasia dan digunakan untuk verifikasi identitas.
Lakukan konfirmasi melalui kanal resmi jika menerima permintaan mencurigakan.
Keenam, berbelanja hanya di platform dan toko tepercaya. Periksa ulasan pembeli sebelum memutuskan transaksi.
Literasi Digital Jadi Pertahanan Utama
Pratama menegaskan penguatan keamanan siber tidak dapat hanya bertumpu pada platform.
“Di tengah pesatnya adopsi belanja digital, upaya penguatan keamanan siber tidak bisa hanya bertumpu pada platform eCommerce semata. Meski berbagai solusi dan teknologi perlindungan terus dikembangkan, kesadaran pengguna tetap menjadi lapisan pertahanan terpenting,” ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan literasi keamanan digital sejalan dengan amanat Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi yang menekankan perlindungan informasi pribadi sebagai hak dasar warga negara.
Di tengah lonjakan transaksi Ramadan, kewaspadaan menjadi kunci agar kemudahan digital tidak berubah menjadi celah kerugian. ***





