Kasus penipuan digital selama Ramadan meningkat hingga 34,7 persen, didominasi modus melalui WhatsApp dan telepon. Jawa Timur masuk tiga besar nasional dengan kerugian ratusan miliar rupiah.
Selama Ramadan, aktivitas digital masyarakat mengalami lonjakan. Komunikasi kian intensif, transaksi meningkat, hingga kebutuhan berbagi semakin tinggi. Lonjakan ini memberikan celah bagi pelaku penipuan digital, seperti spam dan scam.
Data laporan State of Scams in Indonesia 2025 Report yang disusun oleh Global Anti-Scam Alliance, Mastercard, dan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menunjukkan bahwa kasus penipuan digital selama Ramadan meningkat hingga 34,7 persen.
Dari data tersebut, sebanyak 89 persen modus penipuan terjadi melalui WhatsApp, sementara 64 persen lainnya melalui panggilan telepon.
“Aktivitas di ruang digital selama bulan Ramadan cenderung meningkat. Ini menimbulkan potensi atau celah munculnya spam dan scam,” ungkap Adiyanto Adhi Kusumo, SVP Head of Marketing Java Indosat, seperti dikutip Selasa (24/2/2026).
Jawa Timur Tiga Besar Nasional
Adhi melanjutkan, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat Pulau Jawa sebagai wilayah dengan konsentrasi laporan penipuan tertinggi.
Provinsi Jawa Timur menempati posisi tiga besar nasional dengan 60.533 laporan. Angka tersebut menunjukkan tingginya paparan risiko di provinsi dengan mobilitas dan aktivitas ekonomi yang padat, terutama selama Ramadan.
“Di Jatim, ada 60-an ribu lebih kasus dengan kerugian sekitar Rp700 miliar. Di bulan Ramadan biasanya pendapatan dan bisnis seseorang akan meningkat, jadi pelaku (penipu) juga lebih giat menjerat korban,” ujarnya.
Fitur Deteksi Real-Time
Merespons fenomena tersebut, IOH melalui IM3 memperluas fitur perlindungan digital dengan memberikan deteksi penipuan secara real-time, termasuk pada panggilan WhatsApp.
“Ini sebagai upaya kami untuk melindungi pelanggan. Di periode seperti Ramadan, ketika komunikasi dan transaksi meningkat, aktivitas harus lebih tenang, tanpa khawatir hasil kerja kerasnya terancam penipuan,” ujar Fahd Yudhanegoro, EVP Head of Circle Java IOH.
Fahd menuturkan, aktivasi fitur perlindungan penipuan digital di Surabaya dan Jawa Timur terus mengalami pertumbuhan sejak diperkenalkan pertama kali pada Agustus 2025.
“Meningkatnya adopsi fitur ini menunjukkan bahwa keamanan digital kini dipandang sebagai kebutuhan dasar, bukan lagi fitur tambahan, terutama di periode rawan seperti Ramadan,” tandasnya.***





