Pakar ingatkan nasabah waspada link palsu dan tekanan pelaku demi lindungi saldo.
Kejahatan phishing kembali marak dan merugikan nasabah perbankan. Modus ini memanfaatkan kelengahan korban yang tanpa sadar mengeklik tautan palsu, lalu membagikan data rahasia yang akhirnya dipakai pelaku untuk menguras saldo rekening.
Praktik ini banyak bermula dari mesin pencarian atau iklan daring yang meniru situs resmi bank. Sekilas terlihat meyakinkan. Padahal palsu.
Awal Korban Terjebak
Pakar Keamanan Siber Alfons Tanujaya meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat mengakses layanan perbankan digital. Ia menyoroti kebiasaan korban yang tidak memeriksa alamat situs secara cermat sebelum memasukkan data.
“Ini fenomena menarik dan menunjukkan kalau pameo ‘security is a process’ itu benar. Perlindungan yang hari ini aman tidak menjamin aman besok atau bulan depan, selalu waspada dan jangan pernah overconfidence dengan security,” ujar Alfons dalam keterangan resmi, Sabtu (21/2).
Ia menjelaskan, banyak hasil pencarian dan iklan di mesin pencarian yang mengarahkan pengguna ke situs phishing. Karena itu, pengguna disarankan tidak sembarangan mengeklik tautan.
Alfons juga menyarankan masyarakat memasang antivirus dan memastikan tidak ada malware yang dapat mengalihkan akses internet banking. Menurutnya, kebiasaan personal menjadi lapisan pertahanan penting, meski bank telah membangun sistem keamanan di aplikasinya.
Pentingnya Disiplin Keamanan Pribadi
Alfons menegaskan, nasabah harus memastikan alamat internet banking yang diakses benar-benar resmi dan bukan tiruan. Ia juga mengingatkan agar tidak mudah percaya pada pihak yang mengaku sebagai customer service bank.
“Jangan mudah percaya kalau Anda dihubungi oleh siapa pun yang mengaku CS bank atau kepala cabang bank sekalipun. Apalagi minta OTP Appli 1 atau Appli 2,” jelasnya.
Ia menyarankan agar alamat internet banking disimpan di menu Favorites peramban. Selain itu, pengguna perlu memastikan tidak ada add-on mencurigakan yang terpasang di browser yang digunakan untuk transaksi keuangan.
Tekanan Psikologis Jadi Senjata
Dosen Psikologi Media Universitas Indonesia, Laras Sekarasih, menilai pelaku phishing kerap memanfaatkan sisi psikologis korban. Menurutnya, celah kejahatan bukan hanya soal teknologi, melainkan keterbatasan manusia dalam memproses informasi saat tertekan.





