Tak Patah Arang, Seorang Tunanetra di NTT Kerja Sadap Nira untuk Keluarga

“Saya sangat yakin bahwa yang kena mata bukan peluru, karena saat itu laras senapan melewati kepala dan darah yang keluar sedikit. Sebulan kemudian mata kiri ikutan sakit dan mulai kabur hingga buta total,” sambungnya. 

Namun, kondisi fisik yang tak lagi normal tak membuat Rik yang mulai beranjak dewasa putus asa. Tiga tahun setelah kejadian, dia memutuskan  menyadap nira di pohon lontar untuk  dimasak menjadi gula dan memelihara ternak babi. 

“Awalnya Bapak larang karena saya tidak bisa melihat. Tapi saya minta bantuan ke adik-adik, lalu saya mulai iris tuak (sadap lontar). Kebetulan jauh dari rumah jadi tidak diketahui oleh bapak,” ungkap dia. Tak lama setelah mulai menyadap, kegiatannya itu ketahuan bapaknya. Meski begitu, sang bapak tetap tidak bisa menghalangi niat Rik hingga saat ini. “Awal-awal itu memang adik-adik tuntun. Tapi, ketika sudah biasa, saya melakukan sendiri,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Rik selalu beraktivitas tanpa mengenakan alas kaki, agar bisa merasakan jalan yang ia lalui. Di bawah pohon lontar sudah diletakan satu batang dahan lontar untuk menandai bahwa pohon lontar tersebut adalah salah satu pohon yang disadapnya. Selain bisa mengetahui letak pohon lontar, ia juga diberikan pengetahuan khusus, yakni, “Saya bisa tahu, bunga lontar itu sudah keluar atau belum hanya dengan mengetuk pohon tuak (lontar). Kalau sudah ada bunga, bunyinya lain. Jika sudah keluar saya panjat untuk melakukan pembersihan. Setelah itu baru mulai iris (sadap),” katanya. 

Setelah mengiris nira, sadapannya dimasak menjadi gula dan dijual kepada masyarakat. Hasil jualan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan membantu memenuhi kebutuhan sang ibu.

Alen Luin (49) kakak sepupu Rik mengaku, keluarga sudah memintanya berhenti memanjat pohon karena dinilai sangat berbahaya. Tapi Rik berkata, hanya itu yang bisa dia lakukan. Ia mengungkapkan bahwa adiknya tersebut merupakan sosok yang rajin dan pekerja keras. 

“Kita kerja berat seperti menggali fondasi rumah, rontok padi, dan pekerjaan berat lainnya,” katanya. Kerja keras Rik membuat anggota keluarganya tersentuh. “Kami memang terinspirasi karena orang buta saja bisa sadap nira, kenapa kita yang normal tidak bisa,” ujarnya. 

Dortia Luin-Neno, ibu Rik, juga mengakui anaknya merupakan sosok yang rajin dan pekerja keras. “Dari kecil dia (Rik) ini memang pekerja keras. Saat ini dia yang membantu saya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Dortia. Dortia berharap, aktivitas anaknya selalu berjalan lancar. Dia pun selalu mendoakan semua anak-anaknya, termasuk Rik.

(Toni)

Pos terkait