Hasan, salah satu Imam Besar di Masjid Agung Sunan Gunung Jati, menerangkan: “Saat masa Kerajaan Pajajaran, justru banyak orang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi. Karena memang cara dakwah dan syiar Islamnya sangat luwes dan menarik perhatian, maka banyak yang memeluk islam pada waktu itu tanpa paksaan”.
Hasan menambahkan, cara-cara luwes Syekh Datuk Kahfi yang dia maksud, antara lain, Syekh Nurjati menggunakan media musik terbang atau rebana, gembyung, dan perangkat musik lainnya untuk berdakwah, di mana dalam syair-syairnya diselipkan ajakan-ajakan agar orang berminat masuk dan belajar agama Allah. Lirik dan syairnya bermuatan rukun Islam, shalawat Nabi, dan doa-doa.
Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang ditulis Pangeran Arya Carbon menggambarkan bahwa Datuk Kahfi menanamkan akar dakwah dengan sangat hati-hati. Ketika Pangeran Walangsungsang telah selesai menuntut ilmu padanya selama tiga tahun, Syekh Datuk Kahfi memintanya untuk memimpin santri-santri lain untuk membuka hutan di Kebon Pesisir untuk dijadikan hunian baru, yang kemudian diberi nama Caruban Larang. Sebuah tajug atau masjid dibangun di situ, sebagai pusat kegiatan agama penduduk.
Caruban Larang berkembang menjadi wilayah hunian besar yang menarik banyak penduduk baru dari berbagai tempat. Seusai membangun Caruban Larang, Syekh Nurjati menyarankan agar Pangeran Walarangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang pergi menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Sebelum berangkat haji, mereka disarankan menemui Syekh Ibrahim di Champa terlebih dulu.
Keduanya menuruti nasihat Syekh Nurjati dan bertemu Syekh Ibrahim di Champa. Di Champa, Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang menerima wejangan dari Syekh Ibrahim. Selanjutnya Syekh Ibrahim menyuruh keduanya melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Selama di Mekah, keduanya tinggal di pondok Syekh Bayanullah, adik Syekh Nurjati, dan berguru kepada Syekh Abuyazid.
Setelah berhaji, Nyi Mas Ratu Rarasantang mendapat gelar Nyi Haji Syarifah Mudaim dan Pangeran Walangsungsang bergelar Haji Abdullah Iman. Setelah itu Nyi Mas Rarasantang dipersunting oleh Raja Mesir, Maulana Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah. Dari pernikahan ini lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Syarif Nurullah meneruskan memimpin kerajan ayahandanya, sementara Syarif Hidayatullah mensyiarkan Islam di tanah Jawa.
Syekh Datuk Kahfi berjasa mendidik santri-santrinya menjadi tokoh-tokoh penyebar dakwah Islam yang terkenal. Di antara sejumlah tokoh penyebar Islam yang pernah belajar di pesantren Amparan Jati yang diasuh Syekh Datuk Kahfi adalah Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang; Masaeh Munat atau Sunan Drajat; dan Raden Sahid atau Sunan Kalijaga.





