“Apa yang dilakukan DPC PDI-P Kabupaten Jombang dengan memfasilitasi bedah sejarah kelahiran Bung Karno merupakan bentuk support yang bagus menuju penetapan situs kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang sebagai cagar budaya,” kata Nasrul.
Forum itu menghadirkan penelusur sejarah, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jombang, serta akademisi dari Surabaya. Pihak Ploso mengajukan sejumlah dasar, antara lain riwayat penugasan Raden Soekemi dan dokumen yang mereka nilai menunjukkan Soekarno lahir di Ploso pada 6 Juni 1902.
Namun, klaim tersebut belum berujung pada penetapan resmi pemerintah mengenai situs kelahiran Soekarno di Ploso.
Perbedaan itu tidak berhenti pada lokasi, tetapi juga menyentuh tahun kelahiran. Surabaya mendasarkan kesimpulannya pada dokumen dan biografi yang mereka telusuri, sedangkan Ploso mengajukan pembacaan berbeda atas arsip keluarga, penugasan Raden Soekemi, serta jejak lokal.
Perlu Uji Arsip Terbuka
Perdebatan ini semestinya tidak berubah menjadi perebutan simbolik atas nama besar Bung Karno.
Yang perlu diuji secara terbuka adalah dokumen mana yang paling dekat dengan peristiwa kelahiran, kapan dokumen itu dibuat, siapa penyusunnya, serta bagaimana keasliannya diverifikasi secara independen.
Buku Surabaya dapat diposisikan sebagai hasil riset akademik yang menyimpulkan Soekarno lahir di Surabaya. Sementara kajian Ploso perlu ditempatkan sebagai argumen sejarah yang masih didorong menuju pengakuan formal.
Dengan begitu, pelurusan sejarah tidak berhenti pada penegasan satu versi, melainkan membuka ruang pembuktian yang dapat diuji publik.***





