Bahkan, Herry mengungkap bahwa Pemkot Surabaya juga memiliki bus pariwisata yang dapat digunakan untuk mendukung paket wisata tersebut. Layanan ini akan dikolaborasikan dengan hotel-hotel yang menjadi lokasi penyelenggaraan MICE.
“Jadi kita bisa berkolaborasi dengan hotel-hotel. Misalnya mereka menyelenggarakan MICE di hotel A, kemudian kita coba tawarkan menambahkan sesuatu, itu tadi paket wisata kita dengan harga yang tidak mahal misalnya,” katanya.
Herry menilai paket wisata tersebut dapat dikolaborasikan dengan berbagai pihak sehingga peserta MICE dapat menikmati destinasi wisata tanpa harus mengeluarkan biaya besar. “Kita bundling dengan teman-teman yang lainnya menjadi satu paket, satu kesatuan utuh, yang mereka tidak perlu membayar mahal, tetapi bisa menikmati destinasi sekaligus dia memperoleh manfaat dari MICE tersebut,” ujar Herry.
Dengan konsep tersebut, Pemkot Surabaya berharap peserta MICE memperoleh pengalaman yang lebih banyak selama berada di Kota Pahlawan. “Jadi tidak hanya mereka datang rapat, tidur di hotel terus pulang,” tutur Herry.
Tidak hanya itu, pengembangan MICE juga diarahkan untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Salah satu potensi yang tengah didorong adalah sektor kuliner. Herry menyebut, Surabaya telah menjalani uji petik untuk penetapan sebagai kota kuliner oleh Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf).
“Oleh sebab itu pemerintah kota hadir untuk memberikan pelayanan yang maksimal. Tidak hanya Disbudporapar, tapi seluruh PD-PD (perangkat daerah) lain di Pemkot Surabaya,” pungkas Herry. ***





