Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Penyakit Zoonosis, Fokus Cegah Wabah Sejak Dini

Pencegahan Penyakit Zoonosis
Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), serta Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (Pokja RCCE). (Dinkominfo Surabaya)

Data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR) menunjukkan Kota Surabaya tidak mencatat adanya suspek flu burung pada manusia maupun kasus antraks selama lima tahun terakhir, yakni sejak 2021 hingga Minggu ke-27 Tahun 2026. Meski demikian, Dinkes tetap meningkatkan kewaspadaan karena tren suspek leptospirosis dan kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) masih berfluktuasi.

Pada 2025 tercatat sebanyak 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus GHPR. Sementara hingga Minggu ke-27 Tahun 2026 telah dilaporkan 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus GHPR. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia masih perlu diantisipasi.

“Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik karena Surabaya bukan merupakan wilayah endemis rabies,” ungkapnya.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, perwakilan Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, drh. Wafiroh, menjelaskan bahwa sebagian besar penyakit zoonosis dapat dicegah apabila masyarakat memahami cara penularannya.

Menurutnya, rabies dapat menular melalui gigitan atau cakaran hewan seperti anjing, kucing, monyet, maupun kelelawar. Risiko penularannya dapat ditekan melalui vaksinasi hewan peliharaan secara rutin setiap tahun.

“Pada musim hujan, masyarakat juga diminta mewaspadai leptospirosis yang dapat menyebar melalui air yang terkontaminasi urine tikus. Penggunaan alas kaki tertutup saat beraktivitas di daerah tergenang menjadi salah satu langkah sederhana namun efektif untuk mencegah infeksi,” kata drh. Wafiroh.

Selain itu, masyarakat diimbau menghindari kontak dengan unggas yang sakit atau mati mendadak karena berpotensi menularkan flu burung. Daging dan telur unggas harus dipastikan dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi.

“Untuk mencegah penularan antraks, warga diimbau tidak menyembelih maupun mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak, serta segera melaporkan temuan tersebut kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian agar dapat ditangani sesuai prosedur,” terangnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan