Surabaya Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Penyakit Zoonosis, Fokus Cegah Wabah Sejak Dini

Pencegahan Penyakit Zoonosis
Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), serta Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (Pokja RCCE). (Dinkominfo Surabaya)

Menurutnya, langkah tersebut dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat agar membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Warga diimbau menggunakan alas kaki saat beraktivitas di area yang tergenang banjir serta segera membersihkan diri setelah terpapar air hujan maupun genangan.

“Kebiasaan ringan tapi dampaknya besar adalah cuci tangan. Sosialisasi ini terus kami lakukan mulai dari anak usia PAUD, pelajar, hingga akademisi. Dari satu perilaku kecil yang dilakukan secara konsisten, dampaknya sangat besar untuk mencegah penularan penyakit,” ujar dia.

Ia menambahkan, menjaga kebersihan lingkungan sama pentingnya dengan menjaga kebersihan diri. Sebab, tikus sebagai hewan pembawa bakteri penyebab leptospirosis dapat berkembang biak di lingkungan yang kotor dan lembap.

Bacaan Lainnya

“Tikus itu sukanya di tempat yang rungsep-rungsep atau kotor. Jika urine tikus mengenai kulit yang terluka atau kondisi kulit tidak utuh, bakteri leptospirosis bisa masuk ke dalam tubuh,” imbuhnya.

Karena itu, masyarakat diminta mengenali gejala awal leptospirosis agar penanganan tidak terlambat. Penyakit tersebut umumnya diawali dengan demam tinggi dan nyeri di seluruh tubuh tanpa disertai batuk maupun pilek.

“Apabila kondisi berlanjut hingga mengalami gangguan buang air kecil, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Selain leptospirosis, Dinkes Surabaya juga terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR). Meski Surabaya bukan merupakan wilayah endemis rabies, masyarakat tetap diimbau tidak mengabaikan gigitan hewan penular dan segera mencari pertolongan medis.

“Edukasi yang berkelanjutan, deteksi dini, dan respons cepat menjadi kunci untuk mencegah potensi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB),” tegasnya.

Upaya tersebut sejalan dengan data Kementerian Kesehatan yang menyebutkan sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi menimbulkan wabah berasal dari hewan. Karena itu, Dinkes Surabaya terus mengintensifkan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, seperti membiasakan mencuci tangan dengan sabun, menggunakan alas kaki saat beraktivitas di area banjir, menghindari kontak dengan hewan yang sakit atau mati mendadak, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gigitan hewan atau muncul gejala setelah terpapar faktor risiko.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan