Wali Songo merupakan bukti eratnya hubungan antara Samudra Pasai dan perkembangan Islam di Pulau Jawa. Sunan Kalijaga merupakan menantu Maulana Ishak, salah seorang Sultan Pasai. Sunan Gunung Jati, yang menyebarkan Islam di wilayah Cirebon dan Banten, juga merupakan keturunan Pasai.
Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam mengungkapkan, usaha dakwah Islam dilakukan pedagang-pedagang Arab dan India dengan mengawini wanita-wanita setempat yang tinggal di wilayah yang menjadi tujuan syiar. Istri-istri dan pembantu-pembantu mereka inilah yang menjadi inti masyarakat Islam.
Proses Islamisasi melalui perkawinan, dengan tujuan penguatan keluarga-keluarga inti Muslim, pada dasarnya mengikuti jejak Nabi Muhammad Saw. Sultan Malik al-Shalih sendiri menikahi putri Raja Perlak, Sultan Makhdum Alauddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat, bernama Putri Ganggang. Karena perkawinan itu, upaya dakwah Islam di Pasai pun bernuansa sama dengan strategi yang sudah dijalankan di Perlak, di mana penguasa Muslim menerapkan hukum Islam di wilayah kekuasaannya, dengan menekankan kepada semua warga masyarakat untuk tunduk kepada hukum Islam.
Tengku Ibrahim Alfi an dalam Kontribusi Samudra Pasai terhadap Studi Islam Awal di Asia Tenggara meyebutkan bahwa Kerajaan Pasai yang ditegakkan Malik al-Shalih sangat berpengaruh dalam Islamisasi di wilayah-wilayah sekitarnya, seperti Malaka, Pidie, dan Aceh. Pada abad ke-13—saat Malik al-Shalih berkuasa—Pasai menjadi salah satu pusat perdagangan internasional. Lada, kapur barus, dan emas menjadi komoditas ekspornya. Para pedagang dari anak benua India, seperti Gujarat, Bengali, dan Keling, serta pedagang dari Pegu, Siam, dan Kedah banyak menjalankan aktivitas perdagangannya di Selat Malaka, termasuk di Pasai.
Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudra Pasai menerbitkan mata uang emas yang disebut dirham. Pasai juga menjalin persahabatan dengan penguasa negara lain, seperti Champa, India, Tiongkok, Majapahit, dan Malaka.
Samudra Pasai berkembang sebagai kerajaan maritim dan bandar transit, menggantikan peran Sriwijaya di Selat Malaka. Di bawah Sultan Malik al-Shalih, Kerajaan Pasai menjadi pusat pengembangan struktur politik baru dan dakwah Islam terpenting di Sumatera dan Selat Malaka serta Jawa. Kondisi ini tidak saja memberikan pengaruh besar bagi lahirnya kekuasaan Islam dalam wujud kesultanan-kesultanan baru di Nusantara, tetapi juga menjadi faktor penyebab—yang secara langsung dan tak langsung—tenggelamnya kekuasaan lama, seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Kerajaan Sunda.[…bersambung…]
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





