Sultan Malik al-Shalih, Wali Pendiri Kerajaan Samudra Pasai

Sultan Malik ash-Shalih lahir dengan nama Meurah Silo. Dia adalah putra Meurah Seulangan atau Meurah Jaga—atau Makhdum Malik Abdullah—yang merupakan keturunan ke-6 Makhdum Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat, Sultan Kerajaan Perlak yang memerintah antara tahun 365-402 H/976-1012 M. Jika melihat namanya, Meurah Silo, yang mencerminkan nama keturunan bangsawan meurah, maka bisa disimpulkan bahwa Sultan Malik al-Shalih adalah penduduk pribumi Aceh.

Meurah Silo mendapat gelar Malik al-Shalih karena selama ia memerintah, keadaan Negeri Samudra Pasai sangat makmur. Kekayaannya berlimpah. Kerajaan berhasil membangun angkatan laut yang kuat dan angkatan darat yang teratur. Islam ahlussunnah wal jama’ah dijadikan dasar negara di sana. Karena keberhasilannya memimpin itulah, Syaikh Ismail al-Zarfi dari Mesir memberinya gelar Sultan al-Malik ash-Shalih—di mana gelar tersebut juga digunakan oleh penguasa Mesir, Sultan al-Malik al-Shalih Najmuddin al-Ayyubi.

Kondisi Kerajaan Samudra Pasai yang makmur juga diterangkan oleh petualang Muslim dari Maroko, Abu Abdullah Ibnu Batutah (1304-1368 M), dalam kitabnya berjudul Rihlah ila I-Masyriq (Pengembaraan ke Timur). “Sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah,” tulis Ibnu Batutah, menggambarkan kekagumannya terhadap keindahan dan kemajuan Kerajaan Samudra Pasai yang sempat disinggahinya selama 15 hari pada 1345 M. Dalam catatan perjalanan lainnya, Tuhfat al-Nazha, Ibu Batutah menuturkan, pada masa itu Samudra Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara.

Bacaan Lainnya

Jauh sebelum Ibnu Batutah menyambangi Samudra Pasai, seorang penjelajah asal Venezia, Italia, bernama Marco Polo, sudah lebih dulu mengunjungi kerajaan tersebut pada 1292 M. Dia bertandang ke Samudra Pasai saat memimpin rombongan yang membawa ratu dari China ke Persia. Bersama 2 ribu orang pengikutnya, Marco Polo singgah dan menetap selama lima bulan di sana. Sebagaimana dicatat dalam kisah perjalanan berjudul Travel of Marco Polo, pelancong dari Eropa itu juga menyatakan kagum terhadap kemajuan yang dicapai Kesultanan Samudra  Pasai.

Prof. A. Hasymy dalam Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia menerangkan bahwa Malik al-Shalih mempunyai semangat yang kuat untuk menyebarkan dakwah Islam. Dia memainkan peranan yang berkesan di dalam penyebaran agama ini. Akan tetapi, sejarah tidak menyebut detail bagaimana usaha-usahanya mengembangkan dakwah Islam yang dilakukannya dan sejauh mana kejayaannya.

Namun demikian, Sultan Malik berhasil menjadikan kerajaannya sebagai sandaran yang kuat bagi gerakan dan perkembangan dakwah Islam—di mana langkahnya itu diikuti oleh putra dan cucu-cicitnya setelah dia wafat.

Menurut Apridar, Guru Besar Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, dalam artikel Semangat Malikussaleh Membangun Peradaban, Kerajaan Samudra Pasai tercatat dalam sejarah sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara yang menjadi cikal-bakal pusat pengembangan dan penyebaran agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Kerajaan tersebut juga menjadi pusat pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan ternama, yang mewariskan semangat perjuangan bagi generasi penerusnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya sebagaimana tuntunan  Islam.

Sejak tahun 1296 M, atau menjelang akhir abad ke-13 M, sejumlah bangsawan yang pernah singgah di Aceh hijrah ke Majapahit dan menjadi penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Mereka datang ke Jawa secara bertahap. Di antara mereka yang hijrah pada abad ke-14 itu ada adik Putri Champa bernama Pangeran Makhdum—sumber lain menyebutnya Ali Rahmatullah, dan bukan adik Putri Champa, melainkan kemenakan—yang nantinya dikenal sebagai Sunan Ampel. Dengan izin kakak iparnya—sumber lain menyebutnya sebagai paman—yaitu Raja Majapahit yang masih beragama Hindu, Makhdum diizinkan membuka pesantren. Izin tersebut diberikan agar dia bersedia menetap di Jawa sehingga kakaknya—sumber lain menyebut bibinya—tidak merasa kesepian.

Makhdum memilih Desa Ampel Gading di pinggir Kalimas, Surabaya, kemudian menjadi salah satu wali di sana. Sementara Syekh Yusuf, seorang sufi dari Makassar, Sulawesi Selatan—yang menjadi penyebar Islam di Afrika Selatan—juga pernah menimba ilmu di Pasai. Data ini membuktikan bahwa meskipun zaman itu masih belum canggih, namun sudah terjalin jaringan intelektual antara Aceh dan Jawa, juga dengan seluruh Nusantara (Menelusuri Tinggalan Arkeologi Kesultanan Samudra  Pasai, Budi Sulistiono, 2015: 3).

Pos terkait