Fenomena embun es atau yang dikenal dengan sebutan “upas” mulai menyelimuti lautan pasir dan padang savana kawasan Gunung Bromo. Lapisan kristal es yang membalut pasir dan dedaunan menjadi daya tersendiri bagi wisatawan.
___________
Suhu ekstrem yang menyentuh 5 derajat Celsius membuat embun di kawasan Bromo membeku, menciptakan hamparan putih menyerupai salju di pegunungan Eropa.
Tak ingin melewatkan momen langka ini, wisatawan dari berbagai daerah rela bermalam di homestay sekitar Cemoro Lawang untuk mengabadikan keindahan bunga es Bromo.
Para wisatawan biasanya berbondong-bondong menuju lokasi setelah menikmati matahari terbit demi mengabadikan momen langka tersebut. Tak sedikit yang sengaja menginap di homestay sekitar Cemoro Lawang agar tidak melewatkan waktu terbaik saat bunga es mulai tampak menjelang fajar.
Salah satu pelaku usaha wisata setempat, Gondo Handono, mengungkapkan bahwa fenomena upas sudah muncul sejak dua hari terakhir dan diprediksi akan semakin tebal dalam beberapa hari ke depan.
“Embun es muncul cukup tebal, terutama di pagi hari. Suhu sekitar Bromo turun drastis hingga 5 derajat. Biasanya kalau cuaca cerah terus, bunga es bisa makin banyak dan lebih tebal esok harinya,” jelas Gondo, Kamis (10/7).
Fenomena embun es ini menjadi rutinitas tahunan saat musim kemarau, khususnya antara Juli hingga Agustus. Suhu rendah dipicu oleh cuaca cerah tanpa awan di malam hari, sehingga radiasi panas dari permukaan tanah tidak tertahan dan menyebabkan pendinginan yang cepat.
Menurut Gondo, momen munculnya upas ini bukan hanya jadi incaran wisatawan, tetapi juga para fotografer alam yang ingin mengabadikan keindahan kontras antara pasir hitam Bromo dan kristal es putih yang menyelimuti permukaannya.
Fenomena seperti ini dalam bahasa lokal masyarakat Tengger dikenal dengan istilah bediding atau mbedhidhing, yang menggambarkan kondisi udara dingin menggigit saat musim kemarau. Selain Bromo, fenomena serupa juga sering terjadi di kawasan dataran tinggi lain seperti Dieng dan Argopuro.





