Surabaya – Seorang siswi SMP di Surabaya menjadi korban kekerasan yang diduga dilakukan oleh teman sebayanya. Mirisnya, aksi tersebut terekam oleh pelaku dan digunakan untuk mengancam korban.
Ibu korban, SL (34), mengungkapkan bahwa anaknya berkenalan dengan pelaku melalui media sosial. Pelaku, yang berasal dari sekolah lain, mengajak korban bertemu di kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya.
“Setelah itu, mereka sempat berdebat, lalu anak saya dibawa ke rumah pelaku,” ujar SL, Senin (7/10).
Korban diajak ke rumah pelaku di Kecamatan Tandes, tempat pelaku memaksa korban melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Korban sempat menolak, namun pelaku mengancam akan meninggalkannya tanpa ongkos untuk pulang.
“Anak saya diancam akan disuruh pulang naik ojek online, sementara dia tidak membawa uang. Karena itu, dia terpaksa menuruti permintaan pelaku,” jelas SL.
Pelaku Merekam Kejadian
Lebih parah lagi, aksi tersebut direkam oleh pelaku. Rekaman video tersebut kemudian disebarkan ke lingkungan sekolah korban, yang menyebabkan korban enggan untuk kembali bersekolah. Akibat kejadian ini, korban mengalami trauma berat dan memutuskan untuk pindah sekolah.
Namun, pindah sekolah tidak serta-merta membawa ketenangan. Di sekolah barunya, korban justru kembali mengalami perundungan dari teman-temannya. Korban kini memerlukan pendampingan intensif dari ibunya.
“Setelah pindah sekolah, anak saya malah jadi korban bully lagi. Pihak Pemkot Surabaya sudah datang ke sekolah untuk mengontrol murid-murid di sana,” tutur SL.
Karena trauma yang dialami anaknya, SL akhirnya melaporkan kasus ini ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya, berharap agar pelaku dapat segera diproses hukum.
Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Haryoko Widhi, menyatakan bahwa kasus ini sudah masuk dalam tahap penyidikan oleh Unit PPA. “Saat ini proses penyidikan masih berlangsung dan kasus terus berlanjut,” ujarnya.





