Sindir Rakyat Jelata Kurang Bersyukur, Pegawai SPPG Purbalingga Resmi Dipecat

Mantan pegawai SPPG Dyah Fatmi Asih dalam video permohonan maafnya. — Istimewa
Pegawai SPPG Purbalingga dipecat usai viral sindir penerima Makan Bergizi Gratis sebagai “rakyat jelata”.

Seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, resmi diberhentikan dari pekerjaannya setelah unggahan status di media sosial miliknya viral dan memicu kemarahan publik.

Pegawai bernama Dyah Fatmi Asih tersebut kedapatan menyindir para penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sebutan “rakyat jelata yang kurang bersyukur”.

Insiden ini bermula saat Dyah mengunggah foto rekan-rekan kerjanya yang sedang melakukan peregangan di status WhatsApp pada Minggu (15/3/2026). Dalam unggahan tersebut, ia menyertakan kalimat yang dianggap sangat tidak pantas bagi seorang pelayan publik.

Bacaan Lainnya

“Peregangan sik, sebelum menghadapi komentar rakyat jelata yang kurang bersyukur, ehhh,” tulis Dyah dalam tangkapan layar yang kini tersebar luas di berbagai platform media sosial.

Pegawai SPPG Dipecat
Status Dyah Fatmi Asih yang menyindir penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai rakyat jelata yang kurang bersyukur. – Istimewa
Respons Tegas Pengelola SPPG

Koordinator SPPG Kabupaten Purbalingga, Mei Sandra, mengonfirmasi bahwa kejadian tersebut melibatkan salah satu karyawan di SPPG Desa Tlahab Lor, Kecamatan Karangreja. Menurut Mei, unggahan tersebut mulai ramai diperbincangkan sejak Minggu malam dan langsung mendapatkan perhatian serius dari pihak manajemen.

Akibat tindakannya, Dyah Fatmi Asih dijatuhi sanksi berat berupa pemecatan. Keputusan ini diambil secara kolektif oleh Kepala SPPG dan Yayasan Samingah Mendidik Indonesia sebagai lembaga yang menaunginya.

“Yang bersangkutan telah diberi sanksi diberhentikan oleh Kepala SPPG dan Yayasan Samingah Mendidik Indonesia,” tegas Mei pada Rabu (18/3/2026).

Permintaan Maaf Pelaku

Setelah menyadari kegaduhan yang ditimbulkan, Dyah Fatmi Asih akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui pesan singkat. Ia mengakui bahwa pilihan kata yang digunakannya tidak pantas dan telah melukai perasaan masyarakat, khususnya para penerima manfaat program pemerintah.

Pos terkait