Badan Gizi Nasional (BGN) menghemat anggaran sekitar Rp5 triliun selama libur Lebaran, karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berjalan.
Penghematan itu dilakukan sebagai bentuk efisiensi internal, meskipun BGN tidak masuk dalam daftar instansi yang diminta melakukan penghematan oleh pemerintah.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa pemberian MBG kepada anak sekolah telah dilakukan untuk terakhir kalinya pada Jumat (13/3/2026) sebelum libur Lebaran. Sementara untuk ibu hamil dan lansia, distribusi terakhir dilakukan pada hari ini, Selasa (17/3/2026).
“Tentu saja ya, itu kurang lebih sekitar Rp5 triliun, ya. Dihemat dengan seperti itu,” ujar Dadan dalam konferensi pers di Gedung Utama Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Selasa (17/3/2026).
Ia menjelaskan, langkah ini merupakan bentuk empati BGN terhadap situasi krisis yang tengah terjadi, meskipun secara resmi BGN tidak diwajibkan melakukan efisiensi anggaran. Dadan memastikan penghematan tersebut tidak akan mengganggu operasional BGN maupun pendistribusian MBG setelah libur usai.
Pagu Anggaran Rp268 Triliun dan Optimalisasi Dana
Dadan memaparkan, BGN memiliki pagu anggaran sebesar Rp268 triliun, ditambah dana siaga (standby) Rp63 triliun. Pihaknya akan mengoptimalkan penggunaan pagu utama terlebih dahulu.
“Langkah yang pertama yang kami lakukan, kami optimalkan Rp268 triliun dan coba kita tidak hitung yang standby ini. Jadi kita akan efektifkan yang Rp268 triliun,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengakui BGN tengah membahas cara lain untuk mengefisiensikan anggaran. Saat ini, BGN rutin mencairkan dana Rp1 miliar per bulan kepada setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Nilai ini dikecualikan untuk daerah di Indonesia Timur dan Papua yang harga bahan pokoknya lebih mahal.
“93 persen anggaran Badan Gizi Nasional disalurkan untuk bantuan pemerintah makan bergizi. Dan itu langsung disalurkan dari KPPN melalui virtual account ke SPPG di seluruh Indonesia, yang hari ini sudah ada 25.570 SPPG di seluruh Indonesia,” pungkas Dadan.***





