Pacu Jalur Kuansing bukan sekadar lomba dayung. Perahu sepanjang 40 meter diisi hingga 60 atlet dengan peran berbeda, berpacu di Sungai Batang Kuantan dalam festival budaya yang mendunia.
_________
Perlombaan Pacu Jalur dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, mencuri perhatian publik nasional dan dunia. Meski tampak sederhana seperti lomba mendayung biasa, olahraga tradisional ini sejatinya membutuhkan strategi, kekompakan, dan kekuatan luar biasa dari para atletnya.
Setiap perahu yang disebut “jalur” memiliki panjang antara 25 hingga 40 meter, dan bisa diisi hingga 60 atlet. Dalam satu perlombaan, ratusan jalur berlaga secara bersamaan di Sungai Batang Kuantan dengan jarak lintasan sekitar 1 kilometer. Sungai ini memiliki lebar antara 150 hingga 200 meter, tergantung kondisi air saat perlombaan.
Merujuk Peraturan Bupati Kuantan Singingi Nomor 16/2023, formasi dalam satu jalur terdiri dari berbagai posisi. Tugas utama pendayung atau anak pacuan adalah mendayung serentak untuk menjaga kecepatan dan keseimbangan. Sementara tukang tari yang berada di bagian haluan berfungsi sebagai penari dan penyeimbang jalur.
Ada pula tukang timbo ruang yang bertugas menimba air masuk serta menyemangati pendayung, serta tukang onjai yang berdiri di buritan untuk mengatur arah dan ritme pacuan.
Perlombaan dimulai dengan dentuman meriam tiga kali. Jalur yang pertama mencapai garis akhir dinyatakan sebagai pemenang.
Ribuan atlet dari berbagai daerah akan berpartisipasi dalam Festival Pacu Jalur 2025 yang akan digelar pada 20–24 Agustus mendatang. Mengangkat tema “Pacu Jalur Mendunia, UMKM Semakin Jaya”, acara ini juga diramaikan oleh berbagai kegiatan pendukung seperti Maelo Jalur, pentas seni, seminar budaya, lomba foto, dan pameran UMKM.
Festival tahunan ini tak hanya menjadi ajang olahraga tradisional, tetapi juga panggung budaya dan ekonomi rakyat yang terus tumbuh. Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi menargetkan festival tahun ini dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, sejalan dengan upaya menjadikan Pacu Jalur sebagai warisan budaya dunia.***





