Rupiah Kini Lebih “Murah” dari Zaman Krismon, Tapi Ini Bukan 1998

ILUSTRASI - Angka Rp18.000 memang terdengar lebih seram dari 1998. Tapi krisis bukan cuma soal kurs di layar—melainkan seberapa cepat rupiah jatuh, dan seberapa kuat fondasi yang menahannya.

Artinya, hantu 1998 memang tidak sedang berdiri di depan pintu. Tapi bukan berarti rumahnya sudah kebal gempa.

Pelajaran dari Angka yang Menakutkan

Momen ini justru jadi pengingat penting soal cara membaca ekonomi.

Angka nominal di papan kurs memang gampang bikin jantung berdebar. Rp 18.000 terdengar lebih seram dari Rp 16.650. Tapi ekonomi bukan cuma soal angka yang terlihat, melainkan konteks, kecepatan, dan fondasi di baliknya.

Bacaan Lainnya

Krisis 1998 mengajarkan Indonesia satu hal mahal: mata uang yang jatuh terlalu cepat, di atas fondasi yang rapuh, bisa meruntuhkan sebuah rezim. Rupiah 2026 lemah, tapi jatuhnya pelan dan pijakannya lebih kokoh.

Jadi lain kali melihat rupiah tembus rekor, tanyakan bukan cuma “berapa angkanya”, tapi “seberapa cepat sampai ke sana, dan apa yang menahannya”.

Karena di situlah letak beda antara pelemahan biasa dan sebuah krisis.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan