Rel yang Tak Pernah Benar-benar Aman: Membaca Luka Lama Perkeretaapian Indonesia

Kondisi KRL yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi, Senin (27/4) malam. X
Dari Bintaro 1987 hingga Cicalengka 2024, sejarah rel Indonesia adalah daftar panjang tragedi yang berulang. Bukan karena kemalangan, melainkan karena warisan struktural yang belum tuntas diselesaikan.

Decitan roda besi di kawasan Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, hanya sesaat membekukan ritme kota. Kepanikan kecil yang segera berlalu. Tapi, bagi mereka yang paham betul sejarah perkeretaapian Indonesia, momen seperti itu tak pernah sekadar lewat begitu saja.

Ia membuka kembali sesuatu yang sebetulnya tidak pernah benar-benar tertutup.

Tragedi yang Berulang, Pola yang Sama

Indonesia punya daftar panjang kecelakaan kereta yang mematikan. Dimulai dari lembah paling berdarah di Sumatera Barat.

Bacaan Lainnya

Pada 22 Desember 1944, sebuah kereta uap dari Padang menuju Bukittinggi gagal menguasai rem di Lembah Anai. Rangkaian baja itu terjun ke dasar jurang. Sekitar 200 jiwa melayang. Insiden itu terjadi saat Indonesia bahkan belum merdeka—dan jalur rel sudah meminum nyawa manusia.

Lebih dari empat dekade kemudian, 19 Oktober 1987, miskomunikasi sinyal di Pondok Betung, Bintaro, membuat dua kereta melaju di jalur yang sama. KA 220 Patas Merak dan KA 225 Lokal Purwakarta beradu frontal. Hasilnya: 156 orang tewas, 300 lainnya terluka—angka yang menjadikan Tragedi Bintaro sebagai kecelakaan kereta paling mematikan dalam sejarah Indonesia.

Peristiwa kecelakaan kereta api di Bintaro tahun 1987. ISTIMEWA

Yang menggetirkan bukan hanya jumlah korbannya.

Yang menggetirkan adalah bahwa penyebabnya sangat manusiawi: kesalahan sinyal. Kesalahan yang sama juga merenggut 116 nyawa di Depok pada 1968, dan kembali terulang di lokasi hampir serupa pada 1993—kali ini 20 orang tewas akibat informasi keliru dari dua stasiun yang hanya berjarak pendek.

Warisan yang Tak Kunjung Lunas

Pertanyaan yang harus diajukan bukan sekadar “apa yang salah?” melainkan: mengapa pola yang sama terus berulang?

Dari era 1980-an hingga 2010-an, sebab utama kecelakaan kereta besar di Indonesia nyaris seragam: kesalahan sinyal, pelanggaran prosedur oleh masinis atau petugas pengatur perjalanan, dan kegagalan teknis yang terlambat ditangani.

Pos terkait