Akhirul Kalam, Nahdlatul Ulama, Nahdlah adalah salah satu bentuk mashdar dari kata “nahadla”, yang bila disesuaikan dengan teori bahasa Ibnu Malik memiliki arti “kebangkitan” atau “pergerakan tanpa dibatasi waktu”—baik lampau, sedang, atau akan. Sifat bentuk mashdar dalam teori bahasa Ibnu Malik adalah bentuk mashdar lil marrah, yang menunjuk arti pekerjaan atau kejadian sekali, yakni sekali bangkit atau bergerak untuk selamanya.
Penggabungan kata “nahdlah” (nakirah/umum) pada al-ulama (makrifat/jelas) dalam ilmu tata bahasa berfaedah ta’rif, sehingga keduanya menjadi makrifat (jelas) dengan makna tegas. Dengan demikian, Nahdlatul Ulama berarti organisasi kebangkitan atau pergerakan ulama yang menjunjung tinggi nilai-nilai keulamaan, sebagaimana dimaksud mukadimah Qonun Asasi dan berlangsung tanpa batas waktu, sekali bangkit bergerak, berlangsung selamanya.
Semoga NU terus dinamis dan istikamah melaksanakan khidmah di abad keduanya. Meminjam ungkapan Gus Dur: “Perubahan di lingkungan NU sebenarnya terus-menerus terjadi tanpa henti. Hanya saja itu jangan diomongkan. Matangkan dulu, baru dikeluarkan!”
Semoga NU tetap utuh, rukun, guyub dan berkontribusi total bagi masyarakat, bangsa, negara dan kemanusiaan. Jika NU selamat memasuki 100 tahun kedua dengan visi besar yang membumi, maka bangsa dan negara Indonesia akan meraih Indonesia Emas 2045 dengan lebih mudah. NU layak menjadi driving force tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia.*





